Beberapa waktu yang lalu, saya sempat membaca sebuah postingan di Thread, tentang bagaimana kita terjebak euforia saat menonton pertunjukan kesenian kuno yang dipentaskan di PKB. Media Orasi, pemilik akun tersebut, mengkritisi orang-orang yang kegirangan menyaksikan berbagai tarian kuno yang direkonstruksi lalu dipentaskan di panggung PKB. Sayangnya, setelah PKB berakhir, kesenian itu menghilang, tidak lagi dapat dilihat, dan penarinya juga sudah tidak bisa menarikan tarian tersebut. Usaha melestarikan kesenian kuno hanya terbatas pada PKB saja, lalu usaha itu tidak terdengar lagi setelahnya. Di satu sisi, saya setuju dengan pembahasan ini. Tarian ini hanya berakhir di PKB dan menghilang setelahnya, tapi menurut saya, ada satu hal juga yang luput dari pembahasan: tidak ada panggung tersedia setelah PKB.
Sebelum bicara lebih lanjut, saya mau disclaimer dulu nih Sobat Urvasu. Apa yang saya sampaikan di tulisan ini adalah pendapat pribadi dan hasil pengamatan yang saya lakukan. Jadi, pendapat di sini tidak bisa digeneralisir ya. Mungkin saja apa yang terjadi di tempat saya tidak terjadi di tempat-tempat lain.

Melestarikan Kesenian Kuno
Melestarikan kesenian kuno memang memiliki banyak sekali tantangan. Jumlah penari atau pemusik yang semakin menyusut, ingatan terhadap isi kesenian yang juga semakin terkikis oleh waktu, dan generasi muda yang semakin tidak berminat untuk melestarikannya. Semua faktor tersebut menjadi hal pelik dalam pelestarian, ditambah lagi harus berpacu dengan waktu untuk merekonstruksi sebelum para pelaku seni ini tidak lagi bisa menurunkan keahlian mereka kepada para penerus.
Sejak tahun lalu, saya ikut serta di Sangagr Seni Cenik Reneh yang ada di Batuan, Sukawati. Proyek pertama dari sanggar ini adalah berusaha melestarikan seni kuno Joged Pingitan versi Nini Cenik. Nini Cenik telah berpulang lama. Keahliannya menarikan Joged Pingitan kini hanya diteruskan oleh dua orang cucunya, Ibu Sekar dan Ibu Ketut Maringsih. Karena hal ini, keluarga Ibu Sekar berniat melakukan upaya pelestarian dengan melakukan regenerasi. Beberapa anak perempuan telah berhasil diajak untuk ikut serta belajar menari Joged Pingitan. Harapan regenerasi mulai ada.
Setelah beberapa kali latihan, masalah yang lebih berat akhirnya muncul ke permukaan. Para penari bertanya, apakah nanti setelah mereka menguasai tarian tersebut akan mendapatkan kesempatan untuk pentas. Di sana, kami baru sadar, selain masalah yang disebutkan tadi, ini adalah masalah yang lebih besar. Tidak ada panggung yang tersedia bagi para penari ini untuk pentas setelah berhasil belajar. Kenapa ini adalah masalah besar? Karena pencapaian terbesar seorang penari adalah menari di atas panggung, bukan hanya menguasai koreografi tarian itu saja. Penguasaan panggung, kemampuan bergerak selaras dengan gamelan, dan berinteraksi dengan penonton adalah pencapaian terbesar seorang penari. Jika hal ini tidak bisa dipenuhi, apa gunanya menguasai koreografi?
Susahnya Mencari Panggung untuk Melestarikan Kesenian Kuno
Dari sekian banyaknya rekonstruksi yang telah dilakukan untuk melestarikan kesenian kuno, hampir semua kesenian yang direkonstruksi adalah kesenian yang tidak bisa dipentaskan sembarangan. Hal ini menambah peliknya pelestarian. Tarian-tarian kuno hanya menunggu waktu tertentu saja untuk bisa pentas. Dulu, saya sempat berpartisipasi dalam rekonstruksi tari Gambuh Lanang, di mana semua penarinya adalah laki-laki. Setelah berhasil pentas ngayah di Pura Dalem Alas Arum dan Pura Desa Batuan, para penari kembali vakum karena tidak ada lagi kesempatan untuk ngayah. Jelas saja hal ini membuat para penari jarang latihan. Terus terang saja, saya sudah hampir lupa koreografinya.
Tidak saja para penari Gambuh Lanang, anak-anak yang belajar joged pingitan juga mengalami hal yang sama. Setelah berhasil mementaskan tarian ini bersama Ibu Sekar dan Ibu Ketut Maringsih, para penari jarang sekali latihan karena tidak ada kesempatan untuk pentas lagi. Sedih? Sudah pasti, tapi ini juga benar-benar di luar kendali para penari maupun pemilik sanggar.
Hal lain yang juga mempengaruhi mengapa susah untuk melestarikan kesenian kuno adalah faktor ekonomi. Para penari memiliki pekerjaan utama untuk mencari nafkah. Tentu saja dengan begini, waktu yang dimiliki tidak lagi sebanyak penari generasi sebelumnya. Waktu jadi sangat berharga dan latihan hanya bisa dilakukan pada saat akan pentas. Tidak ada banyak waktu latihan untuk belajar koreografi baru atau memperdalam peran lain.
Dari beberapa hal yang saya sebutkan tadi di atas, tantangan itu sangat nyata. Bisa masuk ke PKB adalah salah satu pencapaian dan kebanggaan bagi para pelaku seni yang melestarikan kesenian kuno. Namun tidak bisa kita pungkiri juga bahwa itu juga menjadi klimaks dari usaha pelestarian tanpa bisa bebuat banyak untuk tindak lanjut setelah pentas berakhir.
Tentu saja ulasan di internet itu menjadi semacam ‘wake up call‘ bagi pelaku seni, masayarakat, dan tentunya pemerintah. Pentas PKB seharusnya tidak pernah menjadi klimaks yang diikuti antiklimaks. Seharusnya ia menjadi titik awal pelestarian yang berkelanjutan. Ini adalah PR kita bersama untuk mencari solusi agar usaha melestarikan kesenian kuno itu bisa berkelanjutan dan menghindarkan kesenian-kesenian itu dari kepunahan.


























