Menonton Khon di Thailand

Sobat Urvasu yang suka menonton tarian tradisional benar-benar tidak boleh melewatkan pengalaman menonton drama tari Khon saat berwisata di Thailand. Menonton Khon akan membawa kita menjelajahi kekayaan budaya Thailand. Bukan saja dari seni tari dan musik, tapi juga berbagai jenis seni lain yang berpadu menjadi satu dalam sebuah drama tari ini. Khon akan membawa penontonnya ke sebuah dunia lain yang melenakan.

Pertarungan Rama dan Rahwana pada pertunjukan Khon di Thailand

Khon adalah sebuah pertunjukan klasik Thailand yang diperkirakan sudah ada dari zaman Ayutthaya, sekitar tahun 1300-an sampai 1700-an. Awalnya, kesenian ini hanya diperuntukkan untuk keluarga kerajaan. Keluarga kerajaan merawat kesenian ini hingga bisa mempertahankannya selama ratusan tahun. Seni rumit ini menyatukan tarian, musik, seni suara, bela diri, serta seni pembuatan topeng serta tekstil dan pembuatan perhiasan. Para pendukung pertunjukan ini belajar sejak usia yang sangat muda untuk bisa tampil maksimal. Pertunjukan ini juga menjadi salah satu Warisan Tak Benda UNESCO yang dikukuhkan pada tahun 2018.

Pertunjukkan Khon di Sala Chalermkrung

Salah satu tempat terbaik untuk menonton Khon adalah Sala Chalermkrung, sebuah bangunan bekas bioskop yang direnovasi pada tahun 1990-an setelah berkurangnya minat masyarakat pada film layar lebar. Sala Chalermkrung berarti the hall of entertainment atau Aula Hiburan, dibuat oleh Raja Rama VII dari Dinasti Chakri. Tempat ini menjadi sangat penting dan terkenal karena kesuksesannya menampilkan film bioskop dengan suara pada tahun 1933. Tempat ini memiliki sejarah yang sangat panjang, dan bahkan selamat dari kerusakan selama Perang Dunia II. Meskipun direnovasi secara besar-besaran, bagian depan Sala Chalermkrng tetap dipertahankan bentuk aslinya.

Khon adalah sebuah pertunjukan drama tari di mana sebagian penari menggunakan topeng untuk karakter-karakter seperti raksasa dan monyet, sementara peranan lainnya tidak menggunakan topeng, tetapi memakai make up untuk mempertegas karakter yang diperankan. Khon sendiri sempat mengalami kemunduran karena berkurangnya peminat, namun kerja keras pemerintah dan keluarga kerajaan berhasil merevitalisasi kesenian ini dan membuatnya menjadi kebanggaan Thailand hingga saat ini.

Khon yang ditampilkan di Sala Chalermkrung adalah versi lebih singkat dan lebih canggih dari Khon Klasik. Pada Khon yang ditampilkan di paviliun ini, setting dibuat lebih modern, demikian juga ada spesial efek yang ditampilkan dengan pencahayaan yang dibuat untuk mendukung cerita agar lebih menarik dan terlihat lebih realistik. Khon ini dikenal juga dengan istilah Khon Jintanarumit atau “Imaginative Khon“.

Cerita Khon di Thailand

Khon mengambil cerita Ramakien, versi Thailand dari Epos Ramayana. Ramayana adalah epos yang menceritakan tentang Raja Rama di India yang diusir dari kerajaannya dan bertualang hingga ke Alengka untuk mencari istrinya yang diculik oleh raksasa. Ia dibantu oleh pasukan monyet yang dipimpin oleh Hanuman, monyet yang dipercaya memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Di Sala Chalermkrung, cerita yang diambil berpusat pada sang pimpinan monyet, Hanuman.

Cerita dimulai dari saat Hanuman masih kecil yang merusak taman di surga. Setahu saya, cerita ini tidak ada di cerita versi India maupun versi Bali yang pernah saya tonton pada pertunjukan Wayang Wong. Cerita ini malah mengingatkan saya pada cerita Sun Go Kong. Hanuman kecil kemudian dikutuk oleh dewi pemilik taman agar kehilangan kekuatannya. Kekuatannya akan kembali jika ia bertemu dengan Rama. Lalu cerita berlanjut dengan pertemuan Hanuman dengan Rama dan Laksmana, lalu dilanjutkan dengan cerita pembuatan jembatan ke Alengka.

Nah, di sini saya melihat cerita unik lagi. Pada versi Ramakien ini, diceritakan bahwa ada kerajaan di bawah laut yang dipimpin oleh seorang (ini saya agak bingung menyebutnya, seorang atau seekor ya?) putri duyung. Putri ini bermaksud untuk menggagalkan pembuatan jembatan ini. Karena kerja keras pasukan kera tidak membuahkan hasil, Hanuman akhirnya memutuskan untuk melihat sumber masalahnya. Di sana, ia bertemu dengan sang putri dan terjadi pertarungan antara Hanuman dan pasukan sang putri. Pada akhir pertarungan, ternyata sang putri jatuh cinta pada Hanuman. Plot twist-nya: mereka pacaran, hehehe.

Cerita dilanjutkan dengan pertarungan antara Rama dan Rahwana di Alengka. Wah, ini benar-benar menarik karena di panggung ada dua kereta perang yang ditarik ke tengah panggung. Penari raksasa dan penari monyet bertarung dengan sengitnya sampai kemudian terjadi duel antara Rama dan Rahwana. Ini bagian yang seru, bagus banget, karena kedua pemeran tokoh ini benar-benar all out.

Tidak hanya cerita dan tarian yang menarik, kostum yang digunakan penari juga tidak kalah menariknya lho. Penokohan pada drama tari ini dibagi menjadi karakter bertopeng seperti raksasa (Yak) dan monyet (Ling) dan karakter yang tidak bertopeng seperti Raja/Bangsawan (Phra) dan Putri (Nang). Penari yang tidak bertopeng akan menggunakan make up yang tegas untuk menekankan karakter mereka. Selain topeng yang unik sekali, pakaian mereka juga sangat menarik dengan kain-kain yang berhias benang emas yang rumit, serta aksesori yang tidak kalah cantiknya. Oh ya, satu lagi, dialog dinarasikan oleh seorang dalang yang tidak terlihat dari bangku penonton. Uniknya, jika menonton Khon di Sala Chalermkrung, tidak perlu khawatir kalau tidak mengerti dialog dan jalan ceritanya meskipun dibawakan dalam bahasa Thai. Ada terjemahan alur cerita yang bisa dilihat di sebuah layar di atas panggung.

Penari Khon di Thailand seusai pertunjukan

Nah, supaya gak baca cerita saya saja, jika sobat Urvasu sedang berkunjung ke Thailand, jangan lupa untuk menonton kesenian ini ya. Khon yang dikenal sebagai “the crown jewel of Thai dance” ini bisa disaksikan setiap hari Senin sampai Jumat pada pukul 13.00, 14.30, dan 16.00. Untuk tiket, bisa dibeli di resepsionis Sala Chalermkrung dengan harga 400 baht.Kalau kalian membeli tiket untuk masuk ke Grand Palace seharga 500 Baht, kalian juga bisa menonton Khon di Sala Chalermkrung tanpa beli tiket lagi. Selain itu, ada juga shuttle bus gratis dari Grand Palace untuk menonton Khon di Sala Chalermkrung.

Pokoknya jangan lewatkan pengalaman ini saat berkunjung ke Bangkok! Sampai jumpa lagi di cerita lain ya.

Perhatikan 5 Hal Ini Saat Berwisata di Thailand

Berwisata di Thailand bisa jadi pilihan bagi Sobat Urvasu untuk mengisi waktu libur. Negara di kawasan Asia Tenggara ini dikenal cukup ramah wisatawan dan menawarkan berbagai hal unik dan menarik. Mulai dari alamnya yang indah, budayanya yang begitu kental, hingga makanan yang enak menggoyang lidah. Negara ini juga memiliki infrastruktur pariwisata yang baik. Penguasaan bahasa Inggris di tempat-tempat wisata juga sangat membantu wisatawan asing untuk menjelajahi negara cantik ini. Nah, bagi sobat yang ingin berwisata di tempat ini, jangan lupa perhatikan beberapa hal di bawah ini agar kegiatan berwisata di Thailand jadi menyenangkan dan bebas ribet.

1. Siapkan uang tunai dalam jumlah cukup

Meskipun diberitakan bahwa QRIS diterima di Thailand, sobat tetap harus membawa uang tunai dalam jumlah yang cukup. Tidak semua QR di Thailand dapat di-scan untuk melakukan pembayaran dengan bank dari Indonesia. Pastikan juga bank yang kalian pakai bisa diterima di Thailand ya, hanya beberapa bank tertentu saja yang bisa digunakan untuk transaksi.

Meskipun QR ada di mana-mana, banyak sekali pedagang yang hanya menerima uang tunai. Gerai street food maupun tempat-tempat penjualan souvenir masih hanya menerima uang tunai saja.

2. Selalu perhatikan ramalan cuaca

Cuaca Thailand bisa dibilang mirip dengan cuaca di Indonesia. Bedanya adalah cuaca di sini bisa berubah dengan cukup signifikan pada musim-musim tertentu. Jika sedang berada di Thailand pada musim pancaroba, jangan lupa untuk selalu mengecek ramalan cuaca. Jangan lupa siapkan payung atau jas hujan saat berwisata di Thailand. Jika pergi dengan itinerary pribadi dan tidak ikut tour, jangan ragu untuk menyesuaikan itinerary apabila cuaca kurang bersahabat. Jangan sampai mengejar itinerary tapi malah basah kuyup dan masuk angin!

3. Perhatikan makanan saat berwisata di Thailand

Jika sobat Urvasu sudah terbiasa dengan makanan di Thailand di Indonesia, tidak secara otomatis akan bisa menikmati makanan ini di negara asalnya. Sebagian besar makanan Thailand yang dijual di Indonesia sudah disesuaikan rasanya dengan lidah orang Indonesia. Level pedas makanan Thai di negara asalnya lebih tinggi dari level pedasnya di Indonesia. Di daerah wisata, restoran biasanya akan menanyakan kepada pelanggan apakah mau makanan pedas, agak pedas, atau tidak pedas. Bagi yang mau coba makanan autentik, coba dulu rasa agak pedas. Kalau sudah melewati level ini, bolehlah untuk memesan makanan pedas yang original.

Satu lagi, porsi makanan di Thailand itu besar! Bagi yang terbiasa makan dengan porsi kecil, bersiaplah untuk melonggarkan ikat pinggang. Jangan lapar mata ya, sobat, nanti malah tidak bisa menghabiskan makanannya. Thailand juga sangat terkenal dengan street food-nya. Secara umum, makanan kaki lima disana termasuk cukup bersih, namun jangan lupa untuk selalu memilih penjual yang berjualan dengan bersih ya.

Thai tea super jumbo

4. Gunakan pakaian yang sopan

Biasanya, berwisata di Thailand tidak akan lepas dari kunjungan ke kuil atau ke tempat-tempat yang merupakan milik kerajaan. Di tempat seperti ini, penggunaan pakaian diatur dengan ketat. Di hampir semua kuil, tidak diperkenankan menggunakan bawahan di atas lutut, jadi celana pendek maupun rok pendek tidak diizinkan untuk dipakai. Bagi yang menggunakan rok, panjang rok harus di bawah lutut atau panjangnya di sekitar betis. Di beberapa tempat, dijual celana panjang motif gajah yang bisa dibeli oleh wisatawan yang menggunakan bawahan pendek. Selain larangan menggunakan celana pendek, pengunjung perempuan juga dilarang menggunakan pakaian ketat seperti legging atau baju yang tipis dan menerawang. Bahu juga harus tertutup oleh pakaian, sehingga tank top tidak diperkenankan. Baju tanpa lengan juga tidak boleh dipakai pada saat berkunjung ke kuil.

Alas kaki harus dilepas apabila mengunjungi kuil, jadi pastikan menggunakan alas kaki yang gampang dilepas pasang saat berkunjung ke kuil-kuil di Thailand ya. Kaus kaki masih bisa digunakan untuk masuk ke dalam kuil.

Puluhan hingga ratusan patung budha yang berderet di kuil-kuil Thailand

5. Hormatilah Keluarga Kerajaan

Di Thailand, keluarga kerajaan sangat dihormati oleh penduduk sekitar. Sebagai wisatawan, kita juga diharapkan untuk berperilaku sama. Foto anggota keluarga kerajaan bisa ditemui hampir di mana-mana, di setiap sudut Kota Bangkok. Foto raja yang yang sedang memerintah sekarang, Rama X atau Raja Vajiralongkorn, permaisuri, hingga raja terdahulu, Raja Bhumibol, dihormati sekali oleh masyarakat. Di Thailand, ada hukum yang dikenal dengan Lese Majeste, di mana menurut undang-undang, semua tindakan, ucapan, maupun publikasi yang dianggap merendahkan, menghina, dan mengancam keluarga kerajaan dapat dihukum pidana. Berikut beberapa hal yang tidak boleh dilakukan di Thailand yang berkaitan dengan keluarga kerajaan:

  1. Jangan membicarakan keluarga kerajaan sembarangan. 
  2. Jangan mengkritik kebijakan maupun keputusan keluarga kerajaan
  3. Perlakukan tanda-tanda kerajaan maupun foto keluarga kerajaan dengan hormat. Jika ingin mengambil foto di dekat foto kerajaan, jangan sampai melakukan gestur yang tidak menghormati. Menunjuk foto raja ataupun lambang kerajaan dengan kaki adalah kejahatan yang bisa dihukum pidana.

Satu lagi, Lagu Kebangsaan Thailand akan dikumandangkan tiap pukul 8 pagi dan 6 sore. Saat itu, semua orang diharapkan untuk menghentikan aktivitasnya, jadi saat berada di sana dan lagu kebangsaan dikumandangkan, berhentilah sejenak untuk menghormati lagi kebangsaan.

Nah, itu dia beberapa hal yang perlu diperhatikan saat berkunjung dan berwisata di Thailand. Tolong diingat dan dipersiapkan agar bisa menikmati perjalanan ke tempat-tempat yang indah di Thailand, seperti Rumah Jim Thompson misalnya, atau menikmati tarian Khon di Sala Chalermkrung. Sampai jumpa di cerita lainnya ya.

Berwisata di Thailand: Mengunjungi Rumah Jim Thompson

Saat berwisata di Thailand, ada satu kegiatan yang tidak boleh dilewatkan bagi para pecinta budaya dan seni; mengunjungi Rumah Jim Thompson. Ini bukan rumah biasa, melainkan sebuah rumah cantik yang diubah menjadi museum yang menyimpan berbagai kekayaan budaya, terutama seni rupa di Thailand. Semua benda di dalam rumah ini merupakan koleksi pribadi dari mendiang James Harrison Wilson Thompson, atau yang lebih dikenal dengan Jim Thompson.

Tampak depan rumah Jim Thompson

Kisah dibalik Museum Rumah Jim Thompson

Jim Thompson adalah seorang anggota tentara Amerika serikat yang ditugaskan di Thailand. Ia adalah anak bungsu dari enam bersaudara. setelah menyelesaikan pendidikannya, Jim kemudian bekerja di badan intelegen Amerika Serikat sebelum menjadi CIA. Pada saat itulah Jim kemudian ditugaskan di Thailand.

Saat berada di Thailand, Jim Thompson sangat menyukai rumah tradisional Thailand, dan iapun memutuskan untuk membangun sebuah rumah untuk ditinggali. Kecintaan Jim pada rumah tradisional ini menginspirasinya menggabungkan beberapa rumah yang khas dari beberapa daerah di Thailand. Selain rumah yang begitu cantik, taman yang mengelilingi tempat ini juga menjadi sebuah daya tarik yang sangat memikat. Taman dibuat sedemikian rupa sehingga menjadikan bangunan rumahnya menonjol, namun tetap menjadi satu kesatuan yang indah.

Selain mencintai arsitektur Thai, Jim Thompson sangat mengagumi kerajinan sutera. Kain-kain sutera yang dibuat dengan cara tradisional menarik perhatiannya. Pada saat itu, kerajinan sutera sedang mengalami kelesuan. Jim lalu mengembangkan bisnis sutera dengan ciri khasnya tersediri, warna-warna yang menarik dan cerah, serta motif yang rumit. Atas jerih payahnya mengembangkan kerajinan ini, ia berhasil membuat industri ini berkembang. Ia pun dikenal sebagai Raja Sutera Thailand, dengan perusahaannya yang bernama The Thai Silk Company.

Sayangnya, Jim Thompson tidak bisa mengembangkan usahanya ke arah yang lebih maju lagi. Jim Thompson menghilang secara misterius di Malaysia pada tahun 1967 saat melakukan kegiatan trekking bersama beberapa temannya. Jim yang pada saat itu berjalan sendirian masuk ke dalam hutan, tidak pernah kembali hingga hari ini. Rumah yang ditinggalkan kemuan diubah menjadi sebuah museum yang dikelola oleh The James H. W. Thompson Foundation.

Hiasan keramik unik di rumah Jim Thompson

Berwisata di Thailand: Koleksi Museum Rumah Jim Thompson

Museum Rumah Jim Thompson terletak di dekat pusat kota Bangkok. Mengunjungi museum ini seolah-olah membawa kita kembali ke masa lalu. Bangunan berwarna cokelat dengan taman berwarna hijau yang terawat sangat baik ini saja telah memberikan kita sedikiti gambaran mengenai kehidupan di masa itu. Untuk memasuki museum ini, pengunjung wajib mengikuti tur yang dipandu oleh pemandu wisata yang telah disediakan. Tur dibawakan dalam beberapa bahasa: Thai, Inggris, Perancis, Jepang, dan China. Sayangnya, tidak ada bahasa Indonesia yang disediakan. Pengunjung juga diwajibkan untuk melepas alas kaki selama berada di gedung utama, dan dilarang membawa tas yang panjangnya melebihi 20cm. Pengunjung dibebaskan untuk mengambil foto berbagai koleksi di dalam museum, namun dilarang untuk berswafoto, mengambil foto orang, maupun video.

Beberapa keramik mewah yang menghiasi mUseum Rumah Jim Thompson

Di dalam bangunan utama, kita akan diajak untuk berkeliling melihat koleksi Jim Thompson yang begitu banyak. Dari desain rumahnya saja sudah merupakan daya tarik tersebdiri. Karena Jim Thompson senang menghabiskan waktunya di dalam rumah, ia mendekorasi rumahnya dengan baik. Jika dinding kayu rumah tradisional Thailand biasanya diukir dengan berbagai pola rumit di bagian luar, rumah ini kebalikannya. Ukiran pada kayu dinding terdapat di dinding bagian dalamnya.

Selain bentuk bangunan kuno serta hiasan pada panel-panel dinding dan jendela, ia juga menghiasi rumahnya dengan berbagai macam benda menarik. Berbagai patung budha yang berasal dari berbagai daerah di Thailand, set meja dan kursi kayu yang sangat cantik, dan berbagai jenis peta. Pintu, jendela, hingga kusen di rumah ini juga merupakan karya seni yang tak terhingga nilainya. Ada banyak keramik-keramik langka menghiasi rumah ini. Disini ada berbagai jenis keramik dengan bentuk yang tidak biasa, yang ternyata fungsinya juga tidak bisa ditebak kalu hanya melihat bentuknya saja. Beberapa diantaranya adalah pispot yang berbentuk seperti seekor kucing, dan vas bunga yang berbentuk kodok! Ada juga benda yang tak biasa di rumah ini. Sebuah Rumah Tikus yang katanya memang dulu benar-benar dihuni oleh tikus peliharaan pemilik rumah.

Jam kuno yang masih berfungsi di Museum Rumah Jim Thompson

Seusai berkeliling di rumah utama, peserta akan dipersilakan utnuk berkeliling di bangunan museum. Disini kita bisa menikmati foto-foto Jim Thompson yang dipamerkan. Berbagai jenis karyanya dalam bentuk kain sutra juga ada disini. Beberapa karya yang dikoleksi oleh keluarga kerajaan juga dapat dilihat dalam pameran ini. Puas berkeliling di museum, kita juga dapat berbelanja di galeri yang terdapat di lantai dasar museum. Ada juga sebuah “warung” di depan gedung utama yang menjual makan, minuman, serta souvenir.

Nah, bagi sobat Urvasu yang ingin berkunjung ke tempat ini, siapkan uang 250 Baht per tiket untuk dewasa, untuk anak umur 10-21 tahun 150 Baht, untuk anak 0-9 tahun tidak dipungut tiket masuk.

Jalan-jalan ke Jepang: Kuil Dewi Saraswati

Jepang di tengah semua modernitasnya memiliki budaya dan tradisi yang tidak kalah dengan arus zaman modern. hampir di setiap lingkungan terdapat kuil-kuil yang bisa ditemui. Dari jinja kecil yang ada di pinggir jalan, jinja megah yang begitu kokoh di pusat kota, hingga otera-otera yang jumlahnya tak terhingga. Diantara ratusan atau mungkin ribuan otera dan jinja, diantaranya ada banyak kuil Benzaiten atau Benten yang diidentikkan dengan Dewi Saraswati.

Kuil Benzaiten di Ueno
Kuil Benzaiten di Ueno

Asal-usul kuil Dewi Saraswati di Jepang

Menurut para ahli, Benzaiten memang bersumber pada Dewi Saraswati. Melewati Himalaya dan China, Saraswati kemudian dikenal sebagai Benzaiten di Jepang. Atribut yang melekat pada sang dewi sebagai dewi dari segala sesuatu yang mengalir,pengetahuan dan kebijaksanaan, tetap melekat padanya saat dipuja di Jepang sebagai Benzaiten.

Nama Benzaiten sendiri bisa diartikan sebagai “Dewi yang Membagikan Kebijaksanaan Surga.” Saraswati juga dikenal sebagai dewi kesenian masih bisa dilihat dari Biwa (sejenis alat musik petik) yang dibawa oleh Benzaiten. Banyak pelaku seni di Jepang memuja Benzaiten karena ia adalah dewi dari segala yang mengalir termasuk seni, selain dikenal sebagai dewi sungai dan air.

Ada banyak unsur-unsur yang diserap dan diberikan interpretasinya pada Saraswati hingga menjadi Benzaiten. Benzaiten dipuja tidak hanya oleh mereka yang beragama Budha, tapi juga diakui sebagai Kami oleh mereka yang menganut Shinto. Karena berbagai unsur yang telah diterima ini, Benzaiten tidak hanya menjadi dewi kebijaksanan, tapi juga telah menjadi dewi kemakmuran. Selain para seniman dan cendekiawan yang memujanya, Benten juga dipuja oleh para petani yang memohon panen berlimpah kepadanya. Pada zaman Edo, pemujaan Benten juga dilakukan oleh para perempuan muda yang memohon padanya utnuk diberikan jodoh yang baik. Ia juga dikenal sebagai bagian dari 7 dewa keberuntungan sebagai satu-satunya dewi dalam kelompok tersebut.

Ema berbentuk biwa di kuil Benzaiten di Ueno

Kuil Dewi Saraswati di Jepang

Saat jalan-nalan ke Jepang, Kuil Dewi Saraswati alias Benzaiten dapat ditumi di berbagai tempat. Kuil Benten terbesar dan terpenting ada di Itsukushima, Enoshima, dan Pulai Chikubu. Selain kuil-kuil yang besar tersebut, kuil Benten yang lebih kecil tersebar di seluruh penjuru Jepang. Mulai dari kuil yang besar dan megah dengan areal yang luas, hingga kuil-kuil kecil yang hanya terdiri dari satu bangunan kecil.

Benzaiten sebagai dewi yang menguasai air biasanya memiliki kuil yang dibuat di dalam sebuah pulau, atau dibangun di dekat sungai atau danau. Di taman Ueno, dekat dengan Kebun Binatang Ueno yang terkenal dengan pandanya, Kuil Benten dibangun di sebuah pulau buatan yang dikelilingi oleh pohon-pohon lotus. Pulau ini meniru Pulau Chikubu di Danau Biwa. Keunikan dari kuil ini adalah ema-nya yang berbentuk seperti Biwa.

Di taman Bessho Numa di Urawa, kuil Benten berukuran kecil. Hanya satu bangunan kecil di pinggir sebuah danau buatan di tengah-tengah taman. Kuil ini tersembunyi di sebuah ceruk yang dikelilingi pohon-pohon besar yang cantik. Tidak ada ema yang tergantung, omamori yang dijual atau omikuji disini, namum setiap harinya banyak sekali orang yang datang untuk berdoa dengan membawa bunga, buah, atau sake. Ada juga yang membayar kaul dengan menggantungkan seribu orizuru di pagar kuil.

Kuil Benten di bessho Numa Park
Kuil Benten di bessho Numa Park

Benzaiten atau Saraswati sangat berpengaruh pada masyarakat Jepang. Ia dipuja untuk berbagai hal yang mengalir, kesenian, kebijaksanaan, kemakmuran, cinta, hingga air dan sungai. Jadi nanti saat berkesempatan jalan-jalan ke Jepang, jangan lupa untuk berkunjung ke salah satu Benten ya.

Merayakan Galungan: Sudahkah Merayakan Hari Jadi Bumi?

Sebagai penganut Hindu Bali, setiap 210 hari sekali, saya merayakan Hari Raya Galungan. Tiap 7 bulan kalender atau 6 bulan Bali (1 bulan adalah 5 wuku. 1 wuku lamanya 7 hari), orang Hindu Bali akan melaksanakan rangkaian Hari Raya Galungan yang dimulai dari 25 hari sebelumnya. Meskipun rangkaian Galungan begitu panjang, puncak perayaan di hari Rabu Kliwon Dungulan menjadi puncak semua ritual yang ada.

Banten danan Galungan dengan plastik

Galungan: Ulang Tahun Dunia

Sejak masih di bangku sekolah, hingga kini di meja kerja, pemahaman akan Galungan adalah merayakan kemenangan Dharma melawan Adharma. Selain pengertian tersebut, Galungan juga dikenal sebagai otonan gumi atau ulang tahunnya bumi bagi orang Bali. Di saat ini, selain kita merayakan turunnya para dewa dan leluhur ke dunia untuk memberikan anugerah pada manusia, upacara yang dilakukan juga untuk mendoakan keselamatan dunia. Sebagai orang Bali, doa untuk keselamatan dunia dilaksanakan dengan ritual yang erat sekali kaitannya dengan sesajen atau banten.

Ada banyak sekali jenis banten yang dibuat, dari yang paling kecil hingga yang besar dan rumit. dari sekian banyak hal yang saya amati selama melakukan persembahyangan ke berbagai tempat, ada satu hal yang membuat saya mempertanyakan perayaan Galungan. Benarkah kita merayakan otonan gumi pada hari ini?

Saat saya otonan, biasanya saya sangat senang. Dulu saat masih bocah, otonan artinya baju baru, makanan enak, dan sehari bersantai tanpa dibebani banyak pekerjaan. Kemarin saat otonan gumi, saya melihat bahwa pada hari raya Galungan, bumi kita tercinta hanya didoakan saja dengan ritual-ritual, tanpa ada hadiah yang diberikan kepadanya. Yang ada, perayaan Galungan malah memberikan beban yang lebih berat pada bumi kita tercinta.

Kemarin saat Galungan, saya merasa bahwa apa yang kita lakukan pada hari raya Galungan (dan hari-hari raya lainnya), sudah sedikit kelewatan. Sepertinya kita tidak lagi memuliakan bumi pada saat hari otanannya, kita menambah beban bumi dan menimbulkan kerusakan yang makin besar. Yup, saya melihat pengunaan plastik yang begitu banyak pada ritual yang kita lakukan.

Galungan dan Plastik

Saya bukan anti kemajuan zaman ataupun anti penggunaan plastik dalam membuat banten, namun ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan agar plastik yang kita gunakan tidak mencemari lingkungan lebih lanjut. Edaran Gubernur Bali mengenai pengolahan sampah sebaiknya juga kita terapkan dalam melaksanakan ritual kita. Kita harus sadari bahwa ritual yang kita lakukan juga harus memperhatikan hubungan kita dengan alam.

Dari sekian banyaknya banten yang saya temui saat saya bersembahyang ke beberapa pura, saya memperhatikan banten danan, sebuah banten yang begitu sederhana yang terdiri dari sepasang tumpeng kecil, satu celemik kacang saur, dan raka-raka (buah, tebu, sedikit jajan rengginang dan uli goreng, jajan bantal, dan tebu). Banten ini dihaturkan di berbagai tempat, tidak hanya di pelinggih, namun juga di bawah pelinggih, di halaman, di pintu masuk rumah, hingga di pinggir sungai dan ke tegalan. Yang membuat saya sangat heran, kini banten danan tersebut sudah didominasi oleh plastik. Hampir semua banten yang saya lihat, raka-raka-nya kini sudah dibungkus dengan plastik, bahkan ada beberapa yang kacang saurnya juga sudah dibungkus plastik sampai ke clemiknya. Hanya sepasang tumpeng tersebut yang tidak (mungkin belum) dibungkus plastik.

Anggap saja di satu keluarga membuat 25 banten danan ini, raka-raka dan kacang saur-nya dibungkus plastik, berpa banyak timbulan sampah plastik yang ditimbulkan? Yang lebih memprihatinkan karena banten danan ini biasanya tidak diambil kembali setelah dihaturkan, alias ditinggalkan di tempat. Bayangkan banten ini dihaturkan di tegalan atau di pelinggih samping sungai. Sisa upacara ini akan tinggal disana sampai berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Hanya alasnya yang terbuat dari daun kelapa dan sepasang tumpeng yang terurai. Plastik akan tetap disana dan menjadi polutan.

Banten danan yang ada di sekitar rumah akan dibuang begitu saja tanpa mengalami proses pemilahan terlebih dahulu. Ditengah sibuknya orang Bali, siapa yang akan sempat menyortir sampah dari banten danan-nya? Dengan jumlah yang begitu banyak orang pasti malas untuk membuka setiap plastik, memisahkan plastik dari bahan organik, dan membuangnya ke tempat terpisah. Semua plastik kecil-kecil tersebut akan berakhir bercampur dengan sampah organik di tempat pembuangan sampah.

Ritual kita yang harusnya memuliakan bumi, memberi hadiah pada otonannya di hari Galungan, malah memberikan beban yang lebih berat pada bumi karena pencemaran. Doa kita agar dunia menjadi lebih baik berbanding terbalik dengan perilaku kita. Apakah Tuhan akan mengabulkan doa kita agar dunia lebih baik tanpa tindakan nyata? Saya rasa tidak. Doa yang kita panjatkan harus selaras dengan usaha kita menjadikan dunia lebih baik.

Mengurangi sampah plastik saat Galungan

Menurut saya, masalah ini sangat kompleks karena menyentuh berbagai sisi dalam kehidupan orang Bali. Dari sekian banyak orang yang sempat saya tanyai, sisi praktis dan efisiensi waktu adalah alasan utama menggunakan plastik dalam membuat banten. Dengan menggunakan (membeli) bahan yang sudah dibungkus plastik, akan menghemat waktu dalam metanding (merangkai) banten. Di tengah kesibukan yang kian padat, penggunaan waktu sebaik-baiknya menjadi hal yang harus dilakukan, namun jangan sampai kepraktisan tersebut malah membuat kita lupa akan tanggung jawab kita kepada alam.

Untuk menanggulangi timbulan sampah plastik selama Galungan dan hari raya lainnya, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan. Tentu saja hal ini tidak bisa dilakukan sendirian, perlu kerjasama lintas sektor untuk bisa mewujudkan upacara minim sampah plastik. Menurut saya, beberapa usaha yang bisa dilakukan adalah:

  1. Lembaga agama dan adat (Desa Adat, PHDI) menguatkan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya meminimalisir penggunaan plastik pada banten dan pelaksanaan upacara. Menjaga lingkungan tidak kalah penting dengan upacara dan ritual yang dilaksanakan pada saat hari besar keagamaan. Sosialisasi ini dengan melibatkan para pemangku, pengayah, serati, dan tokoh masyarakat lain, termasuk para pemuda yang tergabung dalam sekaa teruna serta anak-anak di sekolah. Dilaksanakan secara masif dan terus menerus.
  2. Selain menguatkan pemahaman, desa adat dan pengurus pura (pengempon) dapat membuat peraturan yang lebih tegas (perarem atau aturan lainnya) terkait dengan penggunaan plastik pada banten, dan memberikan larangan tegas (misal, tidak boleh menggunakan plastik di banten danan yang dihaturkan di pura khayangan desa. ). Pelaksanaannya harus diawasi oleh petugas (pecalang, pemangku, atau pengayah), dan ada sanksi yang diberikan (misal: Apabila terdapat plastik pada banten danan tersebut, maka pemangku tidak menghaturkannya dan dikembalikan kepada pemiliknya).
  3. Pelaksanaan edaran pemerintah untuk memilah sampah harus dilaksanakan dengan lebih tegas, berani, dan dilakukan terus menerus. Jika para petugas kebersihan menolak untuk mengambil sampah organik dan anorganik, maka pembuatan banten-banten kecil dengan bungkus plastik yang dengan alasan menghemat waktu akan dikurangi. Siapa yang mau hemat waktu metanding, tapi memerlukan lebih banyak waktu untuk memisahkan lungsuran-nya dari plastik?

Bagi saya, pemaknaan Galungan sebagai Otonan Gumi juga tidak kalah penting untuk dipahami. Sebagaimana kita memanjatkan doa keselamatan untuk orang-orang terkasih, memberikan hadiah, dan menunjukkan rasa sayang kita pada saat otonan mereka, seperti itulah kita akan melaksanakan hari raya Galungan. Doa keselamatan dunia akan menjadi lebih bermakna dan bermanfaat bagi bumi dengan mengurangi bebannya dari timbulan dan cemaran sampah plastik. Semoga Galungan mendatang doa kita disertai dengan tindakan nyata menjaga bumi.

Jalan-jalan ke Jepang: Mengunjungi Museum Etnologi Minpaku

Bagi sobat Urvasu yang senang dengan antropologi, berkunjung ke Museum Etnologi Minpaku saat jalan-jalan ke Jepang adalah salah satu kegiatan yang sama sekali tidak boleh dilewatkan. Di museum yang luas ini, kita akan dibuat terpana oleh kebudayaan manusia dari hampir semua penjuru dunia. Ini seperti surga bagi para pecinta antropologi, karena dunia seperti ada di sebuah gedung dan kita bisa menjelajah sepuasnya.

Minpaku adalah nama yang dipakai untuk merujuk pada National Museum of Ethnology yang berlokasi di Osaka. Tahun 2025 ini Osaka menarik perhatian dunia dengan menjadi tuan rumah World Expo 2025 dengan maskotnya Myaku-Myaku. Ternyata, jauh sebelum itu, tepatnya di tahun 1970 tahun yang lalu, Osaka juga menjadi tuan rumah World Expo. Kegiatan bergengsi tersebut dilaksankan di Kota Suita, dan menjdi World Expo pertama yang dilaksanakan di Asia. Kegiatan ini begitu berbekas di hati orang Jepang, dan menjadi salah satu kebanggaan yang hingga kini masih dipelihara. Hampir semua bangunan di world Expo 1970 telah dibongkar, namun lokasi kegiatan ini kini menjadi sebuah taman yang disebut Expo Commemoration Park yang terdiri dari berbagai taman yang lengkap dengan kolam, sebuah monumen yang dikenal luas dengan nama The Tower of The Sun. Nah di lokasi inilah kemudian dibangun sebuah museum etnologi yang begitu mengah. Museum ini bernama Kokuritsu Minzoku-gaku Hakubutsukan, namun lebih dikenal luas dengan nama Minpaku Museum.

Cara masak Bakar Batu di Museum Etnologi Minpaku

Koleksi Minpaku Museum

Pecinta museum akan betah untuk berkeliling disini selama sehari penuh. Museum ini sangat besar, saking besarnya, bagi yang tidak biasa jalan,kaki akan merasa sangat pegal saat mengelilinginya. Di depan museum, kita akan disambut dengan totem-totem yang sangat gagah berdiri di halaman museum. Totem-totem ini berasal dari Benua Amerika.

Memasuki bagian dalam museum, kita tidak akan langsung masuk ke untuk melihat koleksi, melainkan masuk dulu ke dalam sebuah tempat pengecekan tiket. Di tempat ini ada toilet dan penitipan barang yang bisa digunakan untuk meletakkan tas selama kita berkeliling di Minpaku. Tiket dapat dibeli di pintu masuk memorial park. Selanjutnya, kita akan masuk dan menikmati koleksi-koleksi yang luar biasa keren dari museum etnologi Minpaku ini.

Saat masuk ke ruangan pertama saja, kita akan dibuat tercengang oleh koleksi yang berupa kapal. Yup, kapal tradisional yang besar sekali. Luar biasa memang pengelola museum ini. Sesuai namanya, koleksi di museum ini berasal dari seluruh dunia dan mencakup berbagai unsur kebudayaan. Mulai dari makanan, benda hasil kerajinan dan seni, pakaian, alat musik, sampai ada warung juga disana.

Warung dari Afrika di Museum Etnologi Minpaku

Beberapa hal yang menurut saya paling menarik dari museum ini adalah berbagai jenis jagung beraneka warna yang berasal dari Amerika. Jagung merupakan salah satu makanan pokok yang menjadi andalan masyarakat Amerika untuk memenuhi kebutuhan energi dan gizi harian. Di Bali, saya hanya melihat jagung kuning, putih dan ungu. Di Minpaku, saya melihat berbagai jenis jagung mulai dari yagn saya kenal di bali hingga yang berwarna merah. Ada juga yang berwarna merah dan kuning dalam satu bonggol.

Berbagai jenis jagung di Museum Etnologi Minpaku

Ada warung tahun 80-90an dari Afrika di museum ini. Wah keren banget warungnya, beberapa produk juga masih bisa saya kenali seperti pasta gigi (pepso***t) dan deterjen (So K**n dan O*o). Warung ini lengkap dengan plastik yang digantung yang biasa digunakan penjual untuk mewadahi barang belanjaan. Selain warung, ada juga lukisan ruang tamu di Afrika yang ternyata tidak berbeda jauh dengan suasana di Indonesia pada tahun tersebut. Pengunjung boleh berpose lho di lukisan tersebut. Masih Dari Afrika, satu patung yang sangat berkesan untuk saya adalah patung yang terbuat dari potongan-potongan senjata api.

Patung dari senjata di Museum Etnologi Minpaku

Alat musik adalah yang tidak kalah menarik perhatian. Ada berbagai alat musik dari berbagai belahan dunia. Tentu saja wakil Indonesia juga ada disini. Ada seperngakat gamelan Jawa dan gamelan Bali. yang di gamelan Bali, pengujung isa mencoba memainkannya dengan dipandu sebuah video.

Koleksi tentang Jepang di Minpaku

Karena lokasinya di Jepang, tentu saja Minpaku memiliki berbagai koleksi tentang Jepang. Disini, kita bisa belajar banyak tentang sejarah, budaya, hingga sistem kepercayaan masyarakat Jepang. Ada satu ruangan yang khusus ditujukan untuk memarken kehidupan suku Ainu yang dipercaya sebagai suku asli dari Jepang. Ada pakaian, rumah, serta beberapa teknologi yang digunakan oleh suku Ainu.

Koleksi Jepang di Museum Etnologi Minpaku yang paling menarik untuk saya adalah mengenai Shinto. Ada berbagai macam benda yang terkait dengan shinto. Mulai dari shimenawa, berbagai jenis topeng untuk ritual, hingga mikoshi berbbagai ukuran bisa kita lihat disini. Pokoknya, bagi yang ingin mengenal budaya tradisional Jepang, tempat ini adalah tempat yang wajib dikunjungi.

Barang-barang yang berkaitan dengan Shinto di museum Etnologi Minpaku

Setelah selesai berkeliling, kita akhirnya menuju pintu keluar. Sebelum keluar museum cantik ini, kita bisa melihat ruang baca dan audio visual. Nah kalau yang dari tadi penasaran untuk menyentuh koleksi museum, ada satu bagian dimana kita bisa menyentuh beberapa koleksi yang disediakan. Disini pengunjung tidak hanya memanjakan mata dengan melihan cantiknya koleksi museum, tapi juga merasakan pengalam langsung memegang beberapa benda. Satu hal yang jarang sekali bisa kita temui di museum lain. Oh ya, buletin tiga bulanan dari Minpaku juga disediakan secara gratis. Buletin ini memuat berbagai artikel etnologi dari para ahli dari berbagai belahan dunia. Buletin ini tersedia dalam bahasa Inggris.

Sebelum pulang, jangan lupa untuk mampir ke toko omiyage. Disini ada berbagai macam barang-barang unik khas Jepang maupun benda-benda dari berbagai belahan dunia yang dipamerkan disini.

Nah itu sedikit cerita dari Museum Etnologi Minpaku yang bisa saya bagikan. Kalau berkesempatan datang dan berkunjung langsung, pasti akan jauh lebih menarik dan seru daripada secuil cerita yang saya bagikan ini. Kalau sudah sempat berkunjung, jangan lupa bagikan ceritanya di komentar ya.

Sampai jumpa pada cerita-cerita lain bareng Urvasu.

Jalan-jalan di Jepang: Berkenalan dengan Shinto

Saat bicara tentang Jepang, tentu saja kita tidak bisa lepas dari Shinto, sebuah kepercayaan yang sudah mendarah daging pada sebagian besar orang Jepang. Kepercayaan Shinto bisa dibilang merupakan suatu kepercayaan yang sangat menekankan pada keselarasan dengan alam. Sedikit berbeda dengan ‘kriteria agama’ yang kita kenal di Indonesia, Shinto tidak memiliki pendiri (tunggal ataupun kelompok) yang dapat diidentifikasi, tidak ada kitab suci, serta tidak memiliki dogma yang jelas, namun keberadaannya telah menjadi pedoman hidup bagi orang Jepang selama bertahun-tahun.

Meskipun bisa dibilang tidak seperti standar agama yang kita kenal, shinto memiliki beberapa konsep yang hingga kini menjadi bagian hidup masyarakata Jepang dan membentuk kehidupan mereka sehari-hari. Ajaran Shinto mengenai kebersihan jiwa raga, keharmonisan, rasa persatuan komunal, menghargai alam sekitar, serta penghargaan terhadap kesuburan dan prokreasi adalah beberapa konsep pokok yang menjadi ajaran shinto. Kali ini saya tidak akan membahas ajaran Shinto, namun saya akan mengajak sobat Urvasu untuk berkenalan dengan aspek-aspek fisik dari Shinto yang bisa kita temui saat jalan-jalan di Jepang.

Berkenalan dengan Shinto: Atribut Fisik yang Ditemui

Sebagaimana mengenal orang dari fisiknya, kita juga bisa mengidentifikasi Shinto dari beberapa hal yang terlihat. Yang menonjol bisa dilihat dari bangunan serta dekorasi yang begitu khas. Yuk kita lihat beberapa diantaranya.

jalan-jalan di Jepang mengenal shinto: Torii
Torii yang besar dengan warna alami

Torii, Gerbang khas di depan Jinja

Jinja, atau kuil Shinto memiliki gerbang yang begitu ikonik. Mungkin sobat Urvasu langsung mengenali torii saat melihat bentuk serta warnanya yang begitu menarik. Secara umum dikenal, torii terbuat dari kayu dan berwarna merah cerah. Sebenarnya, torii tidak hanya terbuat dari kayu, ada banyak torii yang dibuat dari batu. Warna torii juga tidak selalu merah cerah. Beberapa jenis torii yang terbuat dari kayu mempertahankan warna asli kayunya, sementara torii yang terbuat dari batu juga mempertahankan warna alami batunya.

Torii yang paling umum adalah myoujin torii. Selain jenis ini, ada banyak sekali jenis torii yang dikenal di jepang. Di kuil Tsukinomiya di Urawa misalnya, toriinya terbuat dari batu, dan berupa dua buah pilar yang mengapit pintu masuk tanpa batu melintang diatasnya.

Torii adalah gerbang menuju jinja atau kuil shinto. Gerbang ini memisahkan antara dunia luar dengan bagian dalam kuil yang lebih suci. Sebuah jinja bisa memiliki lebih dari satu buah torii, bahkan ada jinja yang memiliki ribuan tori. Torii yang semakin dekat dengan bangunan utama (honden) mengisyaratkan kesucian yang lebih tinggi di ruang setelah torii tersebut. Jalan yang ada di bawah torii menuju ke bangunan utama dikenal dengan nama Sando. Sando merupakan jalan untuk Kami (dewa, roh penguasa), yang ada di dalam kuil. Karenanya manusia hendaknya tidak berjalan di tengah-tengah sando. Berjalanlah di pinggir saat menuju dan keluar dari jinja.

jalan jalan ke jepang mengenal shinto shimenawa di minpaku
Berbagai jenis shimenawa yang dipamerkan di Minpaku

Shimenawa: Jalinan Jerami

Di berbagai tempat yang dianggap suci, kita bisa menemukan Shimenawa, yakni jerami yang dijalin sedemikian rupa yang menyerupai tali. Shimenawa ini merupakan tanda tempat suci. Shimenawa bisa ditempatkan diatas pintu gerbang kuil, pohon dan batu yang dianggap diberkati oleh kami atau memiliki kekuatan yang diberikan oleh kami, hingga dipakai oleh yokozuna, pesumo dengan gelar tertinggi. Shimenawa dipasangkan berfungsi untuk menolak bala, memisahkan hal yang profan dengan yang sakral, dan perlindungan. Pada saat tahun baru, rumah-rumah di Jepang akan membentangkan shimenawa di atas pintu masuk rumah.

Asal-usul shimenawa ini dipercaya dari zaman Kami, dimana Amaterasu Omikami, Kami tertinggi mengasingkan diri ke dalam sebuah gua setelah pertengkaran dengan adiknya, Susanoo. Setelah Amaterasu berhasil diajak keluar dari goa, seorang kami lain membentangkan tali di mulut goa untuk mencegah Amaterasu masuk kembali ke dalam goa. Tali itu dikenal sebagai shimenawa.

Yang unik dari shimenawa ini adalah dulunya dibuat dari hemp (ganja). Setelah Jepang menerapkan undang-undang anti marijuana, shimenawa kemudian dibuat dari jerami. Shimenawa terbesar di Jepang ada di kuil Izumo Taisha.

jalan jalan di jepang mengenal shinto shide dan shimenawa
Shide dan shimenawa dipasang pada sepasang pohon

Berkenalan dengan Shinto: Shide

Saat jalan-jalan di Jepang, mungkin sobat urvasu akan melihat di kertas yang berbentuk zigzag di beberapa tempat, khususnya di tempat suci. Kertas zigzag tersebut dikenal dengan nama shide. Biasanya shide dilekatkan pada shimenawa. Kertas berbentuk zigzag ini merupakan simbol dari petir yang melambangkan kekuatan luar biasa yang dimiliki oleh Kami. Ada jug ayang mengatakan bahwa petir merupakan elemen cuaca yang menyertai hujan, unsur yang sangat penting untuk panen yang melimpah yang akan membawa kesejahteraan.

Kertas zigzag ini dipercaya bisa membersihakn tempat-tempat suci dari pengaruh buruk. Karena itu, Shide biasanya dilekatkan pada shimenawa sebagai lambang pembersihan dan penolak pengaruh buruk.

Jalan-jalan di Jepang: Pohon Sasaki yang penting dalam Shinto

Ada pohon sasaki yang sangat penting dalam ritual shinto yang dilaksanakan oleh orang Jepang. Pohon sasaki biasanya ditanam di dalam kompleks kuil Shinto. Selain itu cabang pohon Sasaki digunakan sebagai persembahan kepada Kami pada saat dilakukan upacara Shinto. Apabila sobat Urvasu kebetulan melihat jinja kecil yang ada di pinggir jalan, shimenawa, shide, dan ranting sasaki pasti menjadi tiga elemen yang selalu ada. Ranting sasaki biasanya diletakkan pada sebuah vas yang ada di depan altar.

Sasaki menjadi pohon yang penting bagi orang-orang shinto tidak lepas dari mitologi saat Amaterasu o Mikami mengasingkan diri di dalam goa. Para Kami berkumpul dan membuat pesta di depan goa untuk membujuk Amaterasu keluar. Para Kami menggantungkan cermin dan batu permata di pohon sasaki. Sejak saat itu, pohon sasaki menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah ritual shinto.

Nah itu dia perkenalan kita dengan Shinto dari berbagai atribut yang bisa kita lihat. Masih ada beberapa hal lain lagi yang akan saya ceritakan di lain kesempatan. Sampai jumpa pada cerita lainnya.

Sampah Ogoh-ogoh, Tanggung Jawab Siapa?

Sampah ogoh-ogoh di pinggir jalan raya
Sampah Ogoh-ogoh setelah Nyepi

Sehari setelah Nyepi, rasanya bumi baru saja keluar dari mesin cuci, begitu bersih dan segar. Karena udara yang masih belum terpolusi, saya memutuskan untuk berolah raga sedikit, menggerakkan badan setelah meringkuk di kamar seharian selama Nyepi. Saya memilih berjogging sedikit di sekitaran rumah sembari melihat-lihat barangkali ada ogoh-ogoh yang masih nangkring di depan beberapa banjar yang ada di dekat rumah saya.

Menyusuri Jalan Gunung Agung, ada beberapa ogoh-ogoh yang masih nangkring di pinggir jalan. Tidak lupa saya membuat beberapa foto. Saat pengerupukan saya tidak sempat mengambil gambar ogoh-ogoh karena mengikuti pawai bersama dengan anggota Banjar. Sayangnya udara yang bersih, suasana yang segar ini dirusak oleh beberapa onggokan “bangkai” ogoh-ogoh yang ada di pinggir jalan.

Sampah Ogoh-ogoh, Teronggok Begitu Saja

Sampah ogoh-ogoh di pinggir jalan

Dari sekian banyak ogoh-ogoh yang saya temui di jalan, ada beberapa ogoh-ogoh besar yang dimiliki oleh banjar-banjar di sepanjang jalan. Ogoh-ogoh ini terlihat rapi, berada di tempat yang terlindung dan tidak terlihat sampah di sekitarnya. Betuknyapun masih termasuk utuh, meskipun ada beberapa cacat di bagian tubuhnya. Ogoh-ogoh ini tentu saja menjadi tanggung jawab pembuatnya, yakni seka teruna di banjar itu. Terbukti tidak sampai tengah hari, ogoh-ogoh tersebut sudah dipindahkan dan dihancurkan oleh pembuatnya tanpa meninggalkan sedikitpun sisa-sisa sampah. Salut untuk para pemuda yang sudah berberes meskipun pastinya masih lelah karena arak-arakan ogoh-ogoh dua hari sebelumnya berakhir menjelang pagi.

Beda halnya dengan ogoh-ogoh yang teronggok menjadi sampah yang ditinggalkan begitu saja. Hampir semuanya berukuan kecil dan sedang. Ada yang badannya telah patah, rusak, hingga tinggal kerangka dengan onggokan sisa-sisa kertas semen dan kain di sekitarnya. Sepertinya sengaja ditinggalkan begitu saja. Ibarat pepatah, habis manis sepah dibuang, habis senang-senang mengarak ogoh-ogoh, “bangkai” ogoh-ogohnya dibuang begitu saja. Bangkai ogoh-ogoh ini malah mengotori jalanan dan merusak suasana alam yang bersih dan segar.

Sedihnya, yang kemudian mengurus sampah ogoh-ogoh ini adalah Bapak/Ibu petugas DKP yang bertugas hari tersebut. Pengerupukan telah meninggalkan banyak sampah, terutama botol minuman dan bungkus makanan yang sayangnya bertebaran di jalanan. Saat Nyepi, sampah tersbut tidak bisa dibersihkan karena orang-orang tidak boleh keluar rumah. Jadi bayangkan betapa sibuk dan repotnya Bapak dan Ibu petugas DKP yang harus membersihkan jalanan dari sampah, kemudian ditambah lagi dengan onggokan “bangkai” ogoh-ogoh yang jumlahnya tidak sedikit.

Menurut saya, seharusnya ogoh-ogoh dan sampah ogoh-ogoh adalah tanggung jawab mereka yang mengaraknya. Banjar dan sekaa teruna telah melakukan tugas mereka sebaik-baiknya dengan membawa ogoh-ogohnya kembali ke Banjar, namun ogoh-ogoh yang dibuat oleh kelompok-kelompok di luar banjar tidak selalu dibuang dengan baik. Ogoh-ogoh yang harusnya melambangkan kekuatan perusak yang dikembalikan ke alamnya, malah berubah menjadi perusak alam karena tidak di-dispose dengan baik dan benar. Ngerupuk dan Nyepi malah kehilangan esensinya sebagai tindakan merawat alam dengan sampah ogoh-ogoh yang malah merusak alam. Yang paling miris, saat tulisan ini diterbitkan, pagi harinya saya masih melihat sampah ogoh-ogoh yang teronggok di pinggir jalan. Sedih sekaligus kecewa melihatnya.

Mengatasi Sampah Ogoh-ogoh

Onggokan sampah Ogoh-ogoh

Saran saya untuk mengatasi sampah ogoh-ogoh adalah dengan meningkatkan tanggung jawab kelompok pengarak ogoh-ogoh. Setelah bersenang-senang dengan ogoh-ogoh, hendaknya dilanjutkan dengan melakukan “pralina” sebagaimana mestinya. Entah ogoh-ogoh tersebut dibakar, dibongkar, atau disimpan, harus menjadi tanggung jawab penuh kelompok pemiliknya, bukan dialihkan ke para petugas DKP yang sudah kelelahan mengurus sampah-sampah lain.

Sebagaimana pemerintah mengeluarkan peraturan untuk melarang penggunaan sound system saat mengarak ogoh-ogoh, sebaiknya pemerintah mengeluarkan peraturan untuk men-dispose ogoh-ogoh secara baik dan benar. Dengan demikian tumpukan sampah ogoh-ogoh dapat diminimalisir. Saya pikir, pemerintah dapat melakukan pendataan ogoh-ogoh non-banjar yang ada di Denpasar. Kelompok ini harus memiliki penanggung jawab sebagaimana ogoh-ogoh milik banjar memiliki penanggung jawab ketua STT dan Kelihan Banjar.

Baca juga: Rejang Sutri Batuan

Pemerintah bisa meminta para pembuat ogoh-ogoh untuk melaporkan terlebih dahulu rencana disposal ogoh-ogoh setelah diarak. Jika tidak ada rencana yang jelas, maka hendaknya tidak diizinkan untuk mengarak ogoh-ogoh tersebut. Setelah Nyepi, pagi “Ngembak Geni” dilanjutkan dengan penyisiran ke jalan-jalan. Jika ditemukan ogoh-ogoh yang bangkainya teronggok begitu saja di jalan, penanggung jawab dapat dipanggil dan diminta untuk membuang sampahnya dengan sebagaimana mestinya. Jika tidak dilaksanakan, maka penanggung jawab bisa dikenai sanksi.

Mungkin ide ini terdengar sangat ribet ya Sobat Urvasu, tapi saya pikir dengan meningkatkan tanggung jawab pelaksana kegiatanlah maka sampah ogoh-ogoh dapat diminimalisir. Pengrupukan dan Nyepi sebagai tindakan orang Bali untuk merawat alam harus dikembalikan hakikatnya ke perawatan alam agar menjadi lebih baik, bukan menambah beban alam dan pemerintah untuk merapikan sampah ogoh-ogoh yang terbengkali di jalanan.

Apakah Sobat setuju dengan usulan ini atau punya cara lain yang mungkin bisa dijalankan? Yuk tinggalkan komentar kalian, siapa tahu ide-ide kita dilirik oleh pihak berwenang untuk pelaksanaan Ngerupuk dan Nyepi selanjutnya 🙂

Sampai jumpa di cerita berikutnya ya.

Postcrossing: Bertukar Kartu Pos dengan Orang-orang di Seluruh Dunia

Kartu pos yang saya dapat dari Rusia, Jerman, dan Jepang

Pernahkah sobat urvasu berpikir mengenai bertukar kartu pos dengan orang-orang dari seluruh dunia? Awalnya, saya pun tidak pernah berpikir bahwa bertukar kartu pos dengan orang-orang dari seluruh dunia dapat dilakukan. Sampai beberapa bulan yang lalu, tempat kerja saya, YKIP, mendapatkan sebuah amplop yang isinya prangko. Yup, ada 1000 keping prangko! Amplop itu didonasikan untuk digunakan sebagai penggalangan dana. Sebagai penggalang dana, saya bingung akan menjual prangko-prangko itu kemana. Akhirnya saya mencari informasi di internet dan menemukan sebuah grup yang bernama Postcrossing Indonesia. Dari sana, saya mempelajari postcrossing lebih lanjut, dan akhirnya memulai kegiatan bertukar kartu pos dengan orang-orang di seluruh dunia.

Postcrossing adalah sebuah project bertukar kartu pos dengan orang-orang di seluruh dunia. Konsepnya, kita mengirimkan satu buah kartu pos ke alamat yang ditentukan secara acak oleh sistem. Setelah kartu tersebut sampai di tujuan, seseorang di negara lain akan mengirimkan sebuah kartu pos kepada kita. Jadi setiap kartu pos yang dikirimkan akan mendapat sebuah balasannya. Balasan akan diterima dari anggota lain yang alamatnya dipilih secara acak.

Logo Postcrossing ( http://www.postcrossing.com)

Project ini pada awalnya adalah sebuah kegiatan sampingan dari seorang mahasiswa yang bernama Paulo dari Portugal. Ia memiliki kecintaan yang begitu besar terhadap kegiatan surat menyurat dan kartu pos. Paulo kemudian meneruskan project ini dan kini berkembang menjadi sebuah komunitas dengan lebih dari 800.000 anggota yang secara aktif mengirimkan kartu pos ke berbagai belahan dunia. Tujuan dari project ini adalah menghubungkan orang-orang dari berbagai belahan dunia melalui kartu pos terlpeas dari kewarganegaraan, umur, gender, ras, serta keyakinan mereka. Hingga postingan ini ditulis, sudah ada lebih dari 80 juta kartupos yang diterima oleh para anggotanya. Anggota berasal dari berbagai belahan dunia, tepatnya 209 negara dan wilayah. Di Indonesia sendiri, anggota komunitas bertukar kartu pos ini sudah mencapai hampir 9.000 orang.

Cara Bertukar Kartu Pos: Postcrossing

Cara bertukar kartu pos melalui situs web postcrossing tidaklah susah. Yang diperlukan adalah sebuah perangkat yang bisa mengakses internet, kartu pos, alat tulis, serta prangko. Berikut adalah cara bertukar kartu pos dengan memanfaatkan web Postcrossing.

  1. masuk ke dalam web postcrossing ( https://www.postcrossing.com/) lalu klik tab sign up. Pada laman ini kita harus mengisi data-data yang diminta seperti alamat email, user name, alamat rumah, serta membuat password. pastikan bahwa anggota berumur lebih dari 13 tahun atau mendapatkan izin dari orang tua. serelah itu klik tombol sign me up.
  2. Masuklah ke bagian setting di pojok kanan atas, lalu ubah atau sesuaikan data yang diinginkan. jangan lupa untuk menyiapkan foto yang paling cakep untuk dijadikan avatar.
  3. Setelah semua data tersimpan, kita sudah bisa mulai untuk mengirimkan kartu pos. Klik tab home, lalu klik tombol send postcard. setelah membaca serta memberi tanda centang pada pernyataan pada bagian bawah, klik tombol request address. Sebuah alamat akan muncul disertai dengan sebuah kode unik yang disebut dengan “Postcard ID”. Postcard ID ini harus dituliskan pada kartu pos, sehingga nantinya penerima bisa meregistrasikan kartu pos yang mereka terima. Ambil kartu pos yang akan dikirim, tuliskan pesan dan postcard ID serta alamat yang dituju. Sebagai awal, seorang anggota baru memperoleh kuota mengirimkan 5 lembar kartu pos saja.
  4. Setelah melengkapi pengiriman, sekarang saatnya pergi ke kantor pos terdekat untuk mengirimkan kartu pos tersebut. Jangan lupa membeli prangko untuk ditempel pada kartu pos. Tanyakan kepada pegawai kantor pos berapa bea prangko yang harus dibayar.
  5. Saat kartu pos sampai di tujuan (harus sabar menunggu, karena kartu ini bisa saja sampainya diatas 20 hari bahkan ada kartu pos yang saya kirim sampainya lebih dari 2 bulan), kita akan mendapatkan notifikasi bahwa kartunya sudah sampai. Saat ada yang meregister kartu pos kita, maka kita bisa mengirim kartu pos kembali sesuai dengan jumlah kuota yang bisa dilihat pada profil.
  6. Saat penerima kartu pos telah meregistrasinya, maka alamat kita bisa dikirmi oleh sorang member yang diacak oleh sistem. Ini juga harus sabar ya. Beberapa kartu pos yang saya terima sampai pada saya setelah 60 hari lamanya.
  7. Saat menerima kartu pos, jangan lupa untuk register kartunya pada sistem dengna cara mengklik register a card. Masukkan Postcard ID dan tuliskan pesan terima kasih kepada pengirimnya.

Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Postcrossing

Dari pengalaman saya postcrossing ini sangat menyenangkan, namun tetap ada beberapa kendala yang mungkin terjadi saat melakukan pertukaran kartupos dengan orang-orang di berbagai belahan dunia ini. Berikut adalah beberapa hal yang saya alami:

  • Diperlukan kesabaran dalam mengikuti kegiatan bertukar kartu pos ini. Karena kartu pos merupakan kiriman yang tidak terlacak, maka sobat Urvasu tidak akan bisa menlacak kartunya sudah sampai mana atau memperkirakan kapan kartunya akan sampai tujuan.
  • Di Bali, saya agak kesulitan untuk menemukan kartu pos. Kalau dulu kita dengan mudah menemukan kartu pos dengan berbagai desain di toko-toko sepanjang daerah wisata, kini tidak lagi. Beberapa toko buku seperti Gramedia dan Periplus masih memiliki kartu pos, dengan harga yang bisa dibilang cukup mahal. Beberapa kartu pos yang saya kirimkan saya beli secara online.
  • Tarif prangko. Setahu saya, tarif prangko memang sudah diperbarui beberapa tahun yang lalu. Memang tarifnya ada kenaikan, tapi ada beberapa tujuan yang tarif prangkonya kurang dari Rp. 10,000. Sayangnya, di Denpasar semua tarif prangko ke luar negeri disamaratakan yakni Rp.10,000. Entah itu ke Singapore yang dekat atau ke Rusia yang jauh. Saya bahkan sempat tanyakan ke kantor pos Denpasar terkait dengan tarif ini.
  • Lamanya waktu tunggu untuk menerima kartu pos. Ada tiga kartu pos yang dikirimkan pada saya pada awal desember 2024. Sampai awal Februari 2025, tidak satupun kartu tersebut sampai pada saya. Padahal ada satu kartu pos dari Jepang yang seharusnya sampainya tidak terlalu lama. Pengiriman kartu pos dari Jepang ke Australia saja hanya memakan waktu 30 harian. Saya tahu ini karena teman saya dari Jepang mengirim kartu musin panas ke teman saya yang di Australia. Kartunya sampai dalam waktu sebulan. Nah kalau ke Aussie saja 30 hari, kenapa ke Indonesia bisa malah hampir 60 hari? Saya dikirimi email dari Postcrossing karena belum register satupun kartu pos yang sudah hampir expired 60 hari. Karena saya memang belum menerima satupun, saya menghubungi kantor pos Denpasar untuk tanyakan kartu posnya. Respon Kantor Pos Denpasar sangat baik, dan langsung ditanyakan ke bagian operasional. Yang sangat mengejutkan, Pak Pos datang malam harinya ke rumah saya mengantar kartu posnya!
Kartu pos cantik dari Jepang yang dihiasi washi tape dan prangko cantik 100 yen

Dari semua yang terjadi diatas, saya tetap senang dengan hobi ini, apalagi saat menerima karu pos yang dihias cantik dengan berbagai ornamen washi tape, stiker, dan prangko.

Nah kalau Sobat Urvasu tertarik untuk melakukan pertukaran kartu pos dengan orang-orang di seluruh dunia, ayo mulai postcrossing. Selain mendapat kartu pos, ada bonus prangko cantik dan cerita dari berbagai belahan dunia yang bisa kita nikmati.

Berwisata di Jepang: Mengunjungi Kuil Tsukinomiya, Jinja Kelinci

Aula utama kuil Tsukinomiya Jinja Kelinci
Aula utama Jinja Kelinci

Beberapa ratus meter dari stasiun JR Urawa, ada sebuah kuil kuno yang dikenal dengan nama Tsukinomiya Jinja. Kuil ini adalah salah satu kuil yang cukup tua keberadaannya dan menjadi salah satu kuil yang cukup penting dan diperhitungkan keberadaannya di Jepang. Ada banyak keunikan yang bisa dilihat di kuil yang juga dikenal dengan nama Jinja Kelinci ini. Mengunjungi Kuil Tsukinomia, Jinja Kelinci rasanya menjadi hal yang wajib dilakukan saat berwisata di Jepang, khusunya di sekitar Kota Tokyo.

Sejarah Tsukinomiya Jinja

Menurut sejarah, Kuil ini didirikan pada tahun 771 Masehi. Kuil ini ditujukan untuk pemujaan terhadap Kami Amaterasu O Mikami, Dewi Matahari yang dipercaya sebagai leluhur Kaisar Jepang, Susano’o no Mikoto, adiknya, serta Toyokihime no Mikoto, dewi yang mengatur biji-bijian dan makanan. Toyokihime no Mikoto juga dikenal sebagai juru masaknya para Kami, terutama Amaterasu o Mikami. Kuil ini mendapatkan nama “Tsuki” dari fungsinya pada zaman dahulu. Tsuki berarti barang persembahan. Dulu, persembahan yang akan dibawa ke Ise Jingu dikumpulkan terlebih dahulu di kuil ini, sehingga bisa dikatakan dulunya kuil ini adalah semacam gudang logistik untuk persembahan yang dibawa ke Kuil Ise. Tsukinomiya Jinja mengalami beberapa kali bencana yang menghancurkan kuil ini, namun selalu bisa diperbaiki oleh kaisar yang memerintah. Kuil yang ada sekarang adalah kuil yang dibangun kembali pada tahun 1859.

Patung kelinci penjaga gerbang Tsukinomiya Jinja

Kata Tsuki juga dapat berarti bulan. Orang-orang pada zamannya mengasosiasikan kuil ini dengan bulan, meskipun sebenarnya tsuki yang dimaksud adalah persembahan. Karena begitu dekatnya asosiasi dengan bulan, dipercaya bahwa para Kami yang dipuja di jinja ini memilih kelinci sebagai pengantar pesan ke dunia manusia. Kenapa bisa kelinci? Karena menurut orang Jepang dan Asia Timur lainnnya, bayangan hitam di permukaan bulan saat purnama adalah seekor kelinci. Bulan dan kelinci memiliki hubungan yang sangat erat bagi orang-orang Asia Timur.

Mengunjungi Tsukinomiya, Jinja Kelinci: Beberapa Keunikan

Beberapa keunikan kuil Tsukinomiya atau kadang disebut dengan Tsuki Jinja ini sudah sempat saya sebutkan di ulasan diatas. Nah sekarang saya akan mengajak sobat Urvasu untuk membahas keunikan-keunikan kuil ini.

Gerbang Kuil Tanpa Torii

Jika pada umumnya sebuah jinja memiliki gerbang Torii pada pintu masuknya, Tsukinomiya Jinja tidak memiliki gerbang cantik berwarna merah ini. Gerbang jinja ini diapit oleh dua buah pilar batu yang berisi tulisan kanji dipahatkan pada badan pilarnya. Konon katanya ketiadaan torii di kuil tsukinomiya ini karena alasan kepraktisan. Dimasa lalu, berbagai hasil panen dan persembahan dikumpulan dahulu di kuil ini sebelum dibawa ke Ise Jinja. Barang-barang yang terkumpul ini dibawa melalui pintu depan kuli. Palang melintang torii di bagian atas menghalangi barang bawaan yang ditumpuk tinggi saat dipindahkan. Karena hal itu, jinja ini tidak memiliki tori, namun hanya menggunakan sepasang pilar sebagai penanda gerbang.

Kelinci di mana-mana

Tempat membersihkan diri dengan pancuran kelinci di Tsukinomiya Jinja

Para Kami di kuil ini mengangkat kelinci sebagai perantara dan pembawa pesan mereka kepada manusia di dunia fana. Karena pilihan kami tersebut, kuil ini memiliki banyak sekali patung kelinci. Jika pada jinja-jinja umunya menggunakan patung singa, anjing (komainu), atau rubah untuk mejaga gerbangnya, di kuil ini ada kelinci-kelinci imut yang mengapit pintu masuknya.

Tempat membersihkan diri di jinja ini juga memiliki pancuran berbentuk kelinci. Kolam yang ada di tengah-tengah kompleks kuil ini juga memiliki patung kelinci dai tengah-tengah kolam. Tidak sampai disana saja, gambar kelinci yang menggunakan rompi dan membawa shide (kertas berbentuk zigzag) sembari berjalan membelakangi dapat dilihat pada berbagai benda di kuil ini, mulai dari ema (papan kayu untuk menuliskan doa), stempel kuil, hingga omamori kuil ini.

Patung Perungu Kepala Kuil

Salah satu keunikan dari kuil ini adalah adanya patung kepala kuil yang terbuat dari perungu. Biasanya, kepala kuil tidak dijadikan patung, meskipun ia terkenal atau memiliki jasa yang besar. Di Jinja kelinci ini, kepala kuil terdahulu diistimewakan oleh para penerusnya dengan diabadikan menjadi sebuah patung di Jinja Tsukinomiya.

Selayaknya Jinja-jinja yang ada di jepang, Tsukinomiya Jinja juga memiliki halaman yang luas dipenuhi dengan berbagai pohon-pohon yang berukuran besar yang pasti akan membuat perasaan tenang dan damai. Patung-patung cantik yang berterbaran di sekitar halaman kuil juga membuat kita merasa lepas sejenak dari kepenatan. Di bagian belakang aula utama juga terdapat sebuah kuil yang lebih kecil, konon katanya itu adalah tempat aula utama yang pertama sebelum kuil dibangun kembali karena bencana kebakaran. Ada juga sebuah aula pertunjukkan yang digunakan untuk mementaskan kesenian tradisional saat ada upacara atau festival (omatsuri) di Jinja Kelinci.

Patung Kelinci di tengah kolam di Kuil Tsukinomiya
Patung Kelinci di tengah kolam di Tsukinomiya Jinja

Nah, sobat Urvasu, tertarik untuk mengunjungi Jinja Kelinci saat berwisata di Jepang, tepatnya sekitar Tokyo? Sebelum masuk ke Jinja, jangan lupa untuk pahami terlebih dahulu apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat berkunjung ke Jinja ya. Yang sudah berkesempatan mengunungi Jinja Kelinci, silakan berbagi kesan dan cerita di kolom komentar ya.

Sampai jumpa di cerita selanjutnya 🙂