Sobat Urvasu yang suka menonton tarian tradisional benar-benar tidak boleh melewatkan pengalaman menonton drama tari Khon saat berwisata di Thailand. Menonton Khon akan membawa kita menjelajahi kekayaan budaya Thailand. Bukan saja dari seni tari dan musik, tapi juga berbagai jenis seni lain yang berpadu menjadi satu dalam sebuah drama tari ini. Khon akan membawa penontonnya ke sebuah dunia lain yang melenakan.
Khon adalah sebuah pertunjukan klasik Thailand yang diperkirakan sudah ada dari zaman Ayutthaya, sekitar tahun 1300-an sampai 1700-an. Awalnya, kesenian ini hanya diperuntukkan untuk keluarga kerajaan. Keluarga kerajaan merawat kesenian ini hingga bisa mempertahankannya selama ratusan tahun. Seni rumit ini menyatukan tarian, musik, seni suara, bela diri, serta seni pembuatan topeng serta tekstil dan pembuatan perhiasan. Para pendukung pertunjukan ini belajar sejak usia yang sangat muda untuk bisa tampil maksimal. Pertunjukan ini juga menjadi salah satu Warisan Tak Benda UNESCO yang dikukuhkan pada tahun 2018.
Pertunjukkan Khon di Sala Chalermkrung
Salah satu tempat terbaik untuk menonton Khon adalah Sala Chalermkrung, sebuah bangunan bekas bioskop yang direnovasi pada tahun 1990-an setelah berkurangnya minat masyarakat pada film layar lebar. Sala Chalermkrung berarti the hall of entertainment atau Aula Hiburan, dibuat oleh Raja Rama VII dari Dinasti Chakri. Tempat ini menjadi sangat penting dan terkenal karena kesuksesannya menampilkan film bioskop dengan suara pada tahun 1933. Tempat ini memiliki sejarah yang sangat panjang, dan bahkan selamat dari kerusakan selama Perang Dunia II. Meskipun direnovasi secara besar-besaran, bagian depan Sala Chalermkrng tetap dipertahankan bentuk aslinya.
Khon adalah sebuah pertunjukan drama tari di mana sebagian penari menggunakan topeng untuk karakter-karakter seperti raksasa dan monyet, sementara peranan lainnya tidak menggunakan topeng, tetapi memakai make up untuk mempertegas karakter yang diperankan. Khon sendiri sempat mengalami kemunduran karena berkurangnya peminat, namun kerja keras pemerintah dan keluarga kerajaan berhasil merevitalisasi kesenian ini dan membuatnya menjadi kebanggaan Thailand hingga saat ini.
Khon yang ditampilkan di Sala Chalermkrung adalah versi lebih singkat dan lebih canggih dari Khon Klasik. Pada Khon yang ditampilkan di paviliun ini, setting dibuat lebih modern, demikian juga ada spesial efek yang ditampilkan dengan pencahayaan yang dibuat untuk mendukung cerita agar lebih menarik dan terlihat lebih realistik. Khon ini dikenal juga dengan istilah Khon Jintanarumit atau “Imaginative Khon“.
Cerita Khon di Thailand
Khon mengambil cerita Ramakien, versi Thailand dari Epos Ramayana. Ramayana adalah epos yang menceritakan tentang Raja Rama di India yang diusir dari kerajaannya dan bertualang hingga ke Alengka untuk mencari istrinya yang diculik oleh raksasa. Ia dibantu oleh pasukan monyet yang dipimpin oleh Hanuman, monyet yang dipercaya memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Di Sala Chalermkrung, cerita yang diambil berpusat pada sang pimpinan monyet, Hanuman.
Cerita dimulai dari saat Hanuman masih kecil yang merusak taman di surga. Setahu saya, cerita ini tidak ada di cerita versi India maupun versi Bali yang pernah saya tonton pada pertunjukan Wayang Wong. Cerita ini malah mengingatkan saya pada cerita Sun Go Kong. Hanuman kecil kemudian dikutuk oleh dewi pemilik taman agar kehilangan kekuatannya. Kekuatannya akan kembali jika ia bertemu dengan Rama. Lalu cerita berlanjut dengan pertemuan Hanuman dengan Rama dan Laksmana, lalu dilanjutkan dengan cerita pembuatan jembatan ke Alengka.
Nah, di sini saya melihat cerita unik lagi. Pada versi Ramakien ini, diceritakan bahwa ada kerajaan di bawah laut yang dipimpin oleh seorang (ini saya agak bingung menyebutnya, seorang atau seekor ya?) putri duyung. Putri ini bermaksud untuk menggagalkan pembuatan jembatan ini. Karena kerja keras pasukan kera tidak membuahkan hasil, Hanuman akhirnya memutuskan untuk melihat sumber masalahnya. Di sana, ia bertemu dengan sang putri dan terjadi pertarungan antara Hanuman dan pasukan sang putri. Pada akhir pertarungan, ternyata sang putri jatuh cinta pada Hanuman. Plot twist-nya: mereka pacaran, hehehe.
Cerita dilanjutkan dengan pertarungan antara Rama dan Rahwana di Alengka. Wah, ini benar-benar menarik karena di panggung ada dua kereta perang yang ditarik ke tengah panggung. Penari raksasa dan penari monyet bertarung dengan sengitnya sampai kemudian terjadi duel antara Rama dan Rahwana. Ini bagian yang seru, bagus banget, karena kedua pemeran tokoh ini benar-benar all out.
Tidak hanya cerita dan tarian yang menarik, kostum yang digunakan penari juga tidak kalah menariknya lho. Penokohan pada drama tari ini dibagi menjadi karakter bertopeng seperti raksasa (Yak) dan monyet (Ling) dan karakter yang tidak bertopeng seperti Raja/Bangsawan (Phra) dan Putri (Nang). Penari yang tidak bertopeng akan menggunakan make up yang tegas untuk menekankan karakter mereka. Selain topeng yang unik sekali, pakaian mereka juga sangat menarik dengan kain-kain yang berhias benang emas yang rumit, serta aksesori yang tidak kalah cantiknya. Oh ya, satu lagi, dialog dinarasikan oleh seorang dalang yang tidak terlihat dari bangku penonton. Uniknya, jika menonton Khon di Sala Chalermkrung, tidak perlu khawatir kalau tidak mengerti dialog dan jalan ceritanya meskipun dibawakan dalam bahasa Thai. Ada terjemahan alur cerita yang bisa dilihat di sebuah layar di atas panggung.
Nah, supaya gak baca cerita saya saja, jika sobat Urvasu sedang berkunjung ke Thailand, jangan lupa untuk menonton kesenian ini ya. Khon yang dikenal sebagai “the crown jewel of Thai dance” ini bisa disaksikan setiap hari Senin sampai Jumat pada pukul 13.00, 14.30, dan 16.00. Untuk tiket, bisa dibeli di resepsionis Sala Chalermkrung dengan harga 400 baht.Kalau kalian membeli tiket untuk masuk ke Grand Palace seharga 500 Baht, kalian juga bisa menonton Khon di Sala Chalermkrung tanpa beli tiket lagi. Selain itu, ada juga shuttle bus gratis dari Grand Palace untuk menonton Khon di Sala Chalermkrung.
Pokoknya jangan lewatkan pengalaman ini saat berkunjung ke Bangkok! Sampai jumpa lagi di cerita lain ya.






























