Denpasar Festival 2018: Yuk Main!

Denpasar Festival 2018_Urvasu
Ikon Denpasar Festival 2018 dengan tema Urban Playground atau Lila Cita Denpasar

Hai Sahabat, pernakah kalian mendengar tentang Denpasar Festival? Denpasar Festival atau yang lebih dikenal dengan nama Denfest adalah event tahunan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Denpasar untuk menyambut tahun baru. Dari tahun ke tahun, Denfest memiliki tema yang berbeda-beda. Tema Denpasar Festival 2018 kemarin adalah “Lila Cita Denpasar”. Tema ini juga dibuat dalam Bahasa Inggris: Urban Playground.

Sebagaimana namanya, tema ini menunjukkan Kota Denpasar sebagai tempat bermain yang layak. Karenanya, selama kegiatan yang berlangsung dari tanggal 28-31 Desember 2018 ini, ada banyak permainan tradisional yang bisa dicoba oleh pengunjung.

Permainan Tradisional di Denpasar Festival 2018

Permainan tradisional yang dikenalkan kembali pada pengunjung di Denfest, sebagian besar adalah permainan tradisional Bali yang jarang ditemui. Selain itu ada kompetisi game online juga ternyata, hehehehe.

Metajog 

Metajog di Denpasar Festival 2018_Urvasu
Metajog di Denpasar Festival 2018

Metajog atau permainan enggrang adalah salah satu permainan tradisional bali ayng sudah jarang dimainkan. Untuk memainkan permainan ini, diperlukan sepasang bambu dengan panjang antata 1,5-2 meter dengan diisi pijakan kaki. Pemain harus bisa berjalan dengan menggunakan bambu tersebut. Diperlukan kordinasi yang sangat baik antara tangan, kaki, dan badan untuk menjaga keseimbangan selama berjalan. Sebenarnya saya ingin mencoba permainan ini, tapi takutnya enggrangnya jebol, hehehehe.

Main Dengkleng

Main Dengkleng di Denpasar Festival 2018_Urvasu
Main Dengkleng di Denpasar Festival 2018

Dengkleng artinya mengangkat satu kaki. Untuk melakukan permainan ini, pemain harus mengangkat satu kaki dan melompat pada bidang gambar yang telah disiapkan. Pemain harus menyiapkan potongan genteng atau keramik sebagai “kabak” atau batu petunjuk permainan. Kabak akan diletakkan di bidang pertama lebih dulu. Pemain tidak boleh menginjak bidang yang terisi kabaknya. Ia harus melompati bidang tersebut dengan satu kali (medengkleng) dan menginjak bidang-bidang lainnya tetap dengan satu kaki, hingga sampai di bidang terakhir yang paling luas. Waktu zaman saya masih imut, bidang terakhir ini disebut dengan “gunung” :).

Gunung harus diinjak dengan dua kaki atau istilahnya “kebyuk“. setelah melakukan kebyuk di gunung, pemain harus berbalik ke posisi semula dengan medengkleng, dan pada bidang sebelum tempat kabaknya, dia harus mengambil kabak tersebut lalu melompati bidang itu.  Kabak kemudian dilemparkan ke bidang berikutnya, dan pemain kembali melakukan dengkleng seperti diawal. Demikian seterusnya hingga kabak sampai di gunung. Saat kabak di gunung, pemain tidak boleh kebyuk di gunung, tapi mengambil  kabaknya dari bidang sebelum gunung.

Nah, tantangan yang sebenarnya terjadi setelah kabak  diambil dari gunung. Saat itu pemain harus meletakkan kabaknya di punggung tangan dan melakukan dengkleng di semua bidang selain gunung. di Gunung dia harus kebyuk dan berbalik ke tempat mulai dengan dengkleng. Si pemain sekarang harus melemparkan kabak dari atas kepala dengan membelakangi bidang permainan. Jika kabak jatuh pada salah satu bidang, maka ia boleh menguasai bidang tersebut sebagai “rumah”, jika keluar bidang atau tepat di garis, maka dia tidak berhak mendapatkan rumah. Jika kabaknya jatuh di gunung, maka dia bebas memilih bidang mana saja untuk jadi tumahnya. Permainan berikutnya, dia boleh “kebyuk” di rumahnya.

Eh, ngomong-ngomong kabak adalah istilah yang saya kenal di Denpasar, saya gak tahu yang di daerah lain namanya apa, hehehe. Kalau di Singaraja, kabak artinya pacar. Jadi kalau main dengkleng di Singaraja, kabaknya jangan dilempar-lempar ya 😉

Pergantian Pemain

Pemain harus menyerahkan giliran pada pemain berikutnya jika ia melakukan hal-hal berikut:

  1. Menginjak garis, baik pada saat dengkleng ataupun kebyuk.
  2. Kabak nya jatuh pada garis saat dilemparkan menuju bidang yang dituju, baik saat pada giliran menuju gunung, atau membelakangi bidang untuk mendapatkan rumah.
  3. Dengkleng pada saat di gunung.
  4. Dengkleng pada saat menginjak rumah. Selain menyerahkan giliran pada pemain berikutnya, rumahnya juga akan “hangus”. Artinya bidang tersebut bukan lagi miliknya, dan dia harus dengkleng pada saat menginjak bidang tersebut.
  5. kabaknya jatuh dirumahnya baik saat pada giliran menuju gunung, atau membelakangi bidang untuk mendapatkan rumah. Dengan ini, rumahnya juga hangus. 

Duh, kedengarannya ribet ya, tapi gak juga kok. Saat main dengkleng, pasti akan sangat menyenangkan. Aturan yang banyak itu akan terlaksana dengan sendirinya saat memainkan pemainan ini. Minat nyoba? saya sih minat banget waktu itu hitung- hitung nostalgia, tapi karena yang main semua anak-anak dan yang dampingin anak SMA, saya gak jadi ikutan main hahaha, nanti ketahuan masa kecil saya mainnya kurang banyak 🙂

Baca juga: Sungai Badung: Sungai Tercantik di Denpasar

Motor-motoran tradisional di Denpasar Festifal 2018

Mobil-mobilan tradisional di Denpasar Festival 2018_Urvasu
Motor-motoran tradisional di Denpasar Festival 2018

Nah yang ini saya gak tahu apa namanya, hahahaha. Zaman kecil, saya gak punya yang beginian. Sepertinya adik-adik yang naik motornya seneng banget didorong-dorong sama kakak pendampingnya. Eh, setirnya juga berfungsi lho. Kakak pendampingnya akan kasi instruksi, belok kanan dek, belok kiri dek, belok ke hati gebetan, eh, yang itu gak ada ding 🙂

Nah itu tiga permainan tradisional yang sempat saya lihat di Denpasar Festival 2018. Sekian dulu cerita saya, saya mau ngajarin ngajarin anak-anak sekitar rumah main permainan tradisional macam begini, daripada mereka main hape terus, hehehe.

Iklan

Segarnya Es Kapal, Nikmatnya Bikin Nagih Lho!

Halo sahabat,

Sekarang saya lanjut lagi nih cerita tentang jalan-jalan saya di Solo. Kalau sebelumnya saya cerita tentang mengunjungi museum Radya Pustaka, sekarang saya mau cerita tentang salah satu kuliner Solo yang saya temui saat berjalan dari Pura Mangkunegaran menuju Taman Sriwedari. Jajanan satu ini benar-benar unik, dari namanya saja sudah bikin kepo: Es Kapal. Rasanya? Luar biasa enak versi saya, hehehehe.

Es Kapal_Urvasu
penampakan si Es Kapal yang seger dan menggoda selera

Es Kapal : Manis Gurih campur jadi satu

Sebelum saya memutuskan untuk mencoba makanan satu ini, awalnya saya sudah melihat sebuah gerobak di dekat museum Keris Nusantara, tapi masih berprasangka bahwa itu adalah es kepal yang lagi hits, jadi saya abaikan saja. Nah, balik dari Monumen Pers, saya merasa kehausan dan kepanasan, tiba-tiba saja gerobak Es Kapal ini jadi sangat menarik, lebih menarik daripada jawaban chat dari gebetan, eh… jadi curhat.. balik aja deh ke Es Kapal Solo bahasannya, hehehe.

Saya mendekati gerobak dan memesan satu, nah langsung deh prasangka saya gugur. Ternyata bukan es kepal, sodara-sodara… ini beneran Es Kapal. Saat saya ditanya sama Pak Haryadi yang jualan, mau pake roti apa tape saya langsung bingung. Ya saya jawab aja “boleh dikasi dua-duanya gak”. Pak Haryadi ketawa dan bilang “Bisa lah Mas. Eh Mas-nya dari mana?” Wah ketahuan nih saya bukan orang lokal.

Menyiapkan Es Kapal_Urvasu
Pak Haryadi sedang menyiapkan segelas Es Kapal

Pak Haryadi dengan cekatan menyiapkan Es Kapal yang saya pesan. Tidak berselang lama, datanglah sebuah gelas dengan isi penuh dan rotinya menyembul keluar dari mulut gelas! Luar biasa! Warna yang coklat dan ada hijau dari tape ketan benar-benar bikin saya pengen langsung nyeruput. Saya cicipi dulu sesendok, dan rasanya benar-benar wow! Rasa coklat yang kental, trus ditambah gurihnya santan, asam-manis dari tape, duh pokoknya enak banget. Saya coba makan dengan roti tawarnya, waah.. saya gak tahu pake kata apa jelasinnya!

Sambil menikmati es unik ini, sayapun ngobrol sama Pak Haryadi. Ternyata bahan pembuatannya juga dari Tape yang dicampur dengan santan.  Roti yang dipakai pun roti tawar yang teksturnya agak keras. Semuanya dapat deh menurut saya. Dari rasanya, manis dari tape, gurih dari santan kelapa, dan rasa roti tawarnya itu, nyatu banget! Selain rasa, tekstur es serut yang krenyes-krenyes dan roti tawar yang agak kasar bikin pengen ngunyahin terus.

Es Kapal Solo, sodaranya Es Kepal

Sambil saya terus ngunyah-ngunyah, saya juga ngoceh-ngoceh nanyain ini itu sama Pak Haryadi. Pertanyaan saya selain bahan pembuatannya juga tentang namanya, Es Kapal. Nama Es Kapal diambil dari bentuk gerobaknya yang ada moncongnya seperti kapal. Hmm.. sepertinya  saya emang dikuasai kehausan tadi, sampai-sampai gak perhatiin gerobaknya yang unik itu.

Gerobak Es Kapal_Urvasu
Gerobak Es Kapal, bagian depannya ada bagian seperti halauan kapal

Sambil iseng saya pun cerita kalau tadinya saya pikir itu adalah es kepal yang lagi hits. Gak tahunya Pak Haryadi punya sebuah cerita yang cukup aneh buat saya. Es Kapal Solo itu ternyata masih sodara sama es kepal yang dari Malaysia. Lho kok bisa ya beda negara tapi sodaraan?

Menurut Pak Haryadi yang meneruskan penjualan es kapal dari ayahnya, dulunya pembuat es kapal juga membuat es kepal. Caranya menyerut es batu kemudian mengepalnya lalu diberikan sirup diatasnya, mirip dengan es kepal yang sedang hits belakangan ini. Tapi seiring perkembangan zaman, penjual es kapal tidak lagi membuat es kepal karena kurang praktis, memerlukan banyak waktu dan tenaga. Kemudian beberapa tenaga kerja dari Solo yang pergi merantau ke Malaysia membuat es kepal disana, dan ternyata jadi booming sampe ke Indonesia. Nah ini cerita menurut Pak Haryadi ya, saya gak tahu kebenaran yang sesungguhnya. Mungkin ada Sahabat yang ahli sejarah makanan mau coba meneliti? Nanti kalau penelitiannya sudah jadi jangan lupa kasi tahu saya ya, 🙂

Es Kapal Solo: Nikmat dan murah

Karena saya hobi ngobrol, jadi saya juga ngobrol sama seorang pembeli yang datang setelah saya. Namanya Mas Sugeng. Eh ternyata Mas Sugeng pernah tinggal di Bali. jadilah kami ngobrol kangin kauh (versi Balinya Ngalor ngidul nih). Gak terasa es kami pun habis dan saya siap-siap melanjutkan melali di Solo. Tentunya saya gak lupa bayar dong. Yang membuat saya kaget adalah, harga Es Kapal sebanyak itu hanya Rp. 5.000. Murah untuk ukuran porsinya yang lumayan besar. Saking kagetnya saya tanyain lagi ke Pak Haryadi, “Itu beneran lima ribu, Pak?” Pak Haryadi ketawa lagi dan mengiyakan. Duh beneran nikmat dari Tuhan buat saya di hari itu.

Nah buat Sahabat yang pas kebetulan main ke Solo, jangan lupa ya nikmati jajanan satu ini. Pak Haryadi jualan di Jalan dr. Supomo, yaitu di jalan di seberang Taman Sri Wedari. Beliau jualan di kanan jalan jika kita dari arah Taman Sriwedari.

Nanti saya akan cerita lagi pengalaman saya makan nasi kucing ala Solo. Sering-sering main ke blog Urvasu ya 🙂

 

 

Selamat Tahun Baru 2019

tahun baru 2019_Urvasu
Matahari terbit di tahun baru

Halo Sahabat,

Tidak terasa tahun 2018 telah berakhir. Semalam tepat pukul 00.00 tahun telah berganti menjadi 2019.

Ada banyak hal yang telah kita lalui di tahun 2018. Ada yang datang memasuki kehidupan kita, ada juga yang pergi tidak untuk kembali. Ada keberhasilan yang dipetik setelah usaha dan kerja keras memeras pikiran, keringat, dan air mata. Tidak sedikit pula hal yang kita pelajari dari target-target yang tidak tercapai selama 2018.

Beberapa hal yang kita temukan di 2018, tentu tidak semuanya akhirnya menjadi milik kita. Ada yang menemukan, namun akhirnya harus dibuang. Di sisi lain, ada yang dicampakkan, namun menemukan hal yang lebih baik.

Untuk saya pribadi, 2018 merupakan sebuah loncatan besar dalam hidup saya. Sebuah keputusan yang sangat berani telah saya ambil di awal tahun. Berpindah dari tempat kerja yang sudah 4 tahun ke sebuah perusahaan start up adalah keputusan terbesar saya di 2018. Tentu keputusan saya ini menjadi kontroversi di kalangan sahabat-sahabt saya. Ada yang mendukung apapun yang menurut saya terbaik bagi saya, ada juga yang meragukan keputusan saya sebagai suatu hal yang baik. Namun apapun itu, saya syukuri bahwa Tuhan memberikan saya sahabat-sahabat terbaik yang begitu peduli dengan saya, meskipun kadang-kadang cara menyampaikan rasa sayang mereka agak absurd susah dipahami, hehehe.

Harapan Saya di 2019

Ada banyak harapan yang saya gantungkan di tahun 2019. Salah satu yang menjadi prioritas saya adalah hidup lebih sehat, bergerak lebih aktif. Mudah-mudahan saya dapat melakukan hal ini dengan konsisten. Hal lainnya adalah bisa melakukan berbagai hal yang saya lewatkan pada saat saya berumur 20-an. Traveling dengan backpacking ke luar daerah menjadi salah satu target saya di tahun 2019, setidaknya sekali di tahun ini.

Selain backpacking, saya berharap bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Mencoba menemukan lowongan beasiswa S2 di bidang Ilmu Komunikasi akan menjadi salah satu hal yang akan mengisi waktu luang saya tahun ini. Mendapatkan IELTS Score minimal 6,5 juga akan menjadi hal yang saya kejar tahun ini.

Posting di blog ini, di Bali Folktales, dan Pada Suatu Hari secara reguler adalah harapan saya lainnya. Yup, sepertinya banyak sekali yang ingin saya lakukan. Saya berharap bisa melakukan semua itu sambil menemukan tambatan hati, hehehehe.

Bagi Sahabat pembaca, saya harapkan bahwa 2019 menjadi tahun yang gemilang. Yang kehilangan akan menemukan penggantinya yang lebih baik. Yang belum ditemukan akan berhasil ditemukan tahun ini. Yang baik akan bertemu dengan yang sepantasnya, yang dicampakkan akan diangkat ke tempat yang semestinya. Semua kerja keras akan menuai hasil, dan air mata yang pernah tertumpah akan berubah menjadi senyuman manis.

Selamat tahun baru 2019, semoga semua harapan kita dapat terwujud tahun ini.

 

Liburan di Solo: Museum Radya Pustaka

Halo sahabat,

Kalau kemarin-kemarin saya bercerita tentang kegiatan melali saya di Bali, saya akan bercerita tentang pengalaman saya melali ke luar Bali, tepatnya ke bagian tengah Pulau Jawa, yakni Solo, Jogja, dan Borobudur.  Dalam tiga hari saya menyambangi tiga tempat indah ini, jadi masing-masing tempat sehari. Awalnya ini adalah percakapan melalui WA dengan sahabat saya saat SMP, entah bagaimana status WA saya mengenai infeksi saluran kemih ujungnya bisa menjadi diskusi tentang liburan ke Borobudur, hehehehe.

Liburan ini jadi suatu yang menarik buat saya. Entah berapa lama saya tidak bepergian ke luar pulau dan merencanakan liburan ini jadi sangat mengasyikan buat saya. Liburan ke Solo lalu dilanjutkan Borobudur dan Jogja dengan gaya backpacker memberi kesempatan saya untuk berlibur sejenak dari kegiatan kerja dan melarikan diri dari mikirin gebetan yang gak pernah nganggep akan menjadi pengisi ulang batre saya agar tetap strong menghadapi segalanya, hahahaha.

Liburan ke Solo: Destinasi pertama

Saya memilih Solo sebagai tujuan pertama, alasan utamanya karena saya belum pernah ke Solo. Ternyata riset saya untuk menghabiskan hari pertama di Solo kurang bagus. Beberapa hari sebelum berangkat, saya baru tahu bahwa beberapa tempat wisata yang menarik hanya buka sampai jam 11 siang. Duh, rasanya pengen ganti destinasi di hari pertama, tapi tiket udah terlanjur di-issue. Karena sudah terlanjur, jadi saya bertekad untuk bisa berkunjung sebanyak-banyaknya ke tempat wisata pada hari itu.

Sampai di Bandara Adi Sumarmo, saya langsung mencari tempat kendaraan umum. Sialnya karena saya kurang sabaran, saya tidak bisa menemukan dimana halte BST nya, padahal tadinya sempat lihat BST di jalan keluar. Ya sudah lah, akhirnya saya naik Damri dan meminta untuk diturunkan di Taman Sriwedari. Dari bandara ke Taman Sriwedari saya membayar sebesar Rp. 25.000

Taman Sriwedari menjadi tujuan pertama sekaligus jadi titik utama perjalanan saya. Sampai disini, ternyata sedang ada pembangunan dan akses ke Gedung Wayang Orang ditutup, jadi harus memutar melalui jalan besar. Yo wis lah, saya langsung lanjut ke tujuan berikutnya, hanya 100 meter dari Taman Sriwedari.

Museum Radya Pustaka

liburan di solo_Denah Museum Radya Pustaka_Urvasu
Denah museum Radya Pustaka

Museum ini adalah sebuah bangunan yang cukup kuno dengan koleksi yang unik. Untuk masuk kesini, hanya perlu mengisi buku tamu saja, tidak ada biaya untuk menikmati koleksi dari museum ini. Gedung museum dibagi menjadi beberapa tema, seperti Ruangan Wayang, Ruangan Tosan Aji, Ruang Arca berbagai ruangan lainnya.

Wayang selalu membuat saya terkesima, berapa kalipun saya melihat koleksi wayang, saya selalu terpesona. Ada banyak koleksi wayang dipamerkan di Ruangan Wayang ini, seperti wayang Gedong yang menceritakan cerita romantis pengeran Jenggala, ada Wayang Klithik, Wayang Beber hingga Wayang Rumput. Ada juga wayang Wahyu yang digunakan untuk meceritakan cerita-cerita yang bersumber dari Alkitab.

Liburan ke Solo_Wayang di Radya Pustaka_Urvasu
Koleksi wayang di Radya Pustaka

Setelah melihat-lihat ruangan wayang, saya rencananya akan ke ruangan perpustakaan, tapi ternyata ruangan sedang digunakan oleh beberapa peneliti. Ruangan tersebut ternyata khusus untuk penelitian, jadi saya melanjutak ke ruangan Rajamala.

Ruangan Rajamala

 Sebelum ke museum ini, saya tidak pernah berfikir bahwa di Solo pada zaman lampau raja melayari Bengawan Solo.  Wah liburan saya ke Solo kali ini bikin saya belajar banyak nih, heheheh.

Liburan ke Solo_Replika Perahu Rajamala_Urvasu
Replika Perahu Rajamala

Di ruangan ini ada dipamerkan maket dari perahu Rajamala. Aslinya, perahu ini panjangnya sekiar 70 meter dengan lebar 7 meter. Luar biasa kan kemajuan teknologi tahun 1800-an awal sudah bisa membuat perahu sebesar itu. Uniknya lagi kapal ini juga dilengkapi dengan seperangkat gamelan yang ditabuh selama perjalanan. Tuh kan, kurang keren apa lagi?

Ada juga senjata yang melengkapi kapal ini untuk melindungi raja saat berlayar mengarungi Bengawan Solo. Ada 6 pucuk meriam dan beberapa pucuk pistol dan senapan. Bisa dibayangkan kan megahnya kapal Rajamala ini. Yang paling unik dari senjata-senjata ini adalah Pembelah Baita, tombak yang digunakan untuk membunuh buaya yang mengganggu perjalanan raja. Pembelah Baita adalah sebuah keris besar  yang digunakan sebagai ujung tombak. Saking bagus buatannya, keris ini bisa menembus kulit buaya!

Liburan ke Solo_keterangan tentang Kapal Rajamala
Penjelasan tentang Perahu Rajamala

Sayangnya kapal ini sudah tidak ada lagi. Yang tersisa hanyalah beberapa bagian kapal serta sebuah topeng besar yang awalnya berada di hulu kapal. Topeng ini adalah gambaran dari Rajamala, seorang tokoh wayang purwa. Konon katanya kapal ini selalu berada di Bengawan Solo, dan saat banjir besar, kapal akan dikayuh untuk mengunjungi rakyat yang terkena bencana. Raja akan membagikan nasi yang dibungkus dengan daun. Konon lagi katanya, jika banjir besar, selain membagikan makanan raja akan bersenang-senang bersama rakyatnya dengan mengajak mereka naik perahu dan menabuh gamelan. Wah raja yang baik hati ya…

Ada juga yang mengatakan bahwa Perahu Rajamala ini pernah digunakan untuk berlayar hingga Madura untuk mengantarkan permaisuri raja menjenguk keluarganya. Pendapat itu tidak diamini oleh para ahli sejarah, beberapa ahli sejarah malah meragukannya. Tapi kalau bagi saya sih, jika itu benar maka kemampuan bahari zaman itu sudah luar biasa!

Ruangan Ethnografi

Nah ini ruangan yang menyimpan seperangkat gamelan khas Solo. Selain itu saya melihat beberapa manequin menggunakan pakaian adat Solo dengan berbagai variannya. Wah bajunya keren-keren, dan saat pertama saya melihatnya, saya teringat pakaian jas dari barat. Setelah melihat keterangannya ternyata beberapa jenis pakaian itu memang dimodifikasi dari pakaian Eropa. Pantesan agak mirip, hehehehehe.

Primbon Jawa_Liburan ke Solo_Urvasu
Salah satu ramalan primbon Jawa

Salah satu hal yang bisa dilakukan di ruangan ini adalah konsultasi Primbon Jawa. Primbon ini seperti horoskop yang meramalkan nasib atau jalan hidup seseorang dengan melihat hari lahirnya. Sayangnya saya hanya bisa membaca saja, karena layanan konsultasi tidak dibuka pada hari Jumat. Duh, padahal mau nanyain jodoh eh karir, biar liburan ke Solo ini ada yang diingat selamanya,  hahahaha…

Setelah lewat ruang etnografi, saya melihat-lihat ruangan arca lalu langsung pamitan sama mas penjaga museum yang ramahnya ampun-ampunan. Perjalanan saya lanjutkan ke Museum Keris Nusantara.

Kesasar Mencari Air Terjun Tibumana

Air terjun Tibumana_Urvasu
Air Terjun Tibumana di Bangli

Saat libur, selain tidur-tiduran di rumah yang lebih menyenangkan adalah melali (jalan-jalan). Melali selalu menyenangkan buat saya, meskipun kadang-kadang ada kejadian yang aneh selama perjalanan. Kali ini saya akan berbagi cerita tentang ke-absurd-an perjalanan saya saat menuju Air Terjun Tibumana.

Perjalanan spontan ke Air Terjun Tibumana

Sebenarnya perjalana ke Air Terjun Tibumana ini tidak terencana. Saat itu saya berkunjung ke Desa Batuan dengan misi untuk belajar menari. Rencananya saya akan meminta seorang penari topeng Bali untuk mengajari saya menari Topeng. Sayangnya rencana ini belum bisa terwujud karena saya tidak sempat bertemu dengan Beliau.

Disana saya bertemu dengan seorang guru lainnya yang sedang mengajari seorang perempuan berkebangsaan Jepang menari Margapati. Akhirnya kamipun ngobrol-ngobrol ngalor ngidul dan entah bagaimana ceritanya obrolan berlanjut ke air terjun. Nanaka, perempuan Jepang tersebut mengajak kami untuk mengunjungi air terjun Tegenungan. Saya menolak karena air terjun itu ramenya minta ampun, kadang-kadang parkir saja gak bisa. Akhirnya kami melihat peta di Mbah Google dan menemukan sebuah tempat dengan nama Air Terjun Tibumana, 20 menit berkendara dari Desa Batuan.

Kami sangat bersemangat saat menuju Ait Terjun Tibumana, tapi ternyata perut yang lapar mengharuskan kami untuk singgah makan sebentar di Warung Teges. Saya akan ceritakan makanan Warung Teges ini di post selanjutnya ya. Setelah mengisi perut, kamipun lanjutkan perjalanan. Dari sinilah perjalanan absurd kami dimulai. Saat sudah mencapai Desa Bitera, petunjuk jalan di HP saya tidak berfungsi karena masalah jaringan. Sayapun tidak menyadari hal ini hingga kami sampai di pertigaan menuju Madangan. Saat sampai di pertigaan, kamipun berdiskusi sengit mau belok kanan apa kiri. Guru tari saya pun mengatakan kita harus belok kiri, dan dia tahu jalannya.  Akhirnya sebagai yang lebih muda kami mengalah, walaupun saya masih kekeuh ingin belok kanan hahahahaha.

Setelah perjalanan hampir 10 km, kami mulai bertanya-tanya dan Mbok Sekar sang guru tari tetap menyuruh kami tenang, dan dia malah menyuruh saya bercerita tentang “Ibu Para Naga”. Hingga akhirnya cerita itu selesai kami tidak menemukan tanda-tanda menuju Air Terjun Tibumana. Nanaka kemudian menggunakan HP nya dan tada… kami salah jalan dan air terjun itu jadi tambah jauh, sekitar 20 menit dari tempat kami sekarang!

Kesasar Tapi Menyenangkan

Kami menggunakan petunjuk arah dari HP Nanaka dan mulailah si Mbak Waze menuntun kami menuju Air Terjun Tibumana. Jalan yang dipilihkan oleh si mbak Waze ini tidak kalah anehnya dengan perjalanan kami sebelumnya. Demi sampai dengan selamat di Air Terjun Tibumana kamipun mengikuti saja kata si Mbak.

Jalan kecil yang menurun lalu berkelok benar-benar membuat kami deg-deg ser. Untung saja Nanaka yang mengendarai mobil sudah terlatih dengan medan seperti itu. Jalan-jalan kecil dengan diapit sawah hijau membuat kami terpesona. Laju kendaraan diperlambat selama kami melewati sawah yang hijau kekuningan. Sepintas beberapa bagian dari sawah berundak ini mirip dengan sepenggal pemandangan Jatiluwih.  Beberapa anak sungai juga terlihat sangat jernih dan mengundang kami untuk berhenti sejenak. Dari estimasi perjalanan 20 menit akhirnya molor jadi 40 menit karena saking lambatnya kami bergerak.  Duh, ingin rasanya saya punya rumah di daerah sana untuk bisa menikmati pemandangan indah tersebut. Sayangnya saya lupa mengambil foto karena ingin menyimpan batere HP untuk mengambil foto di Air Terjun Tibumana.

Patung di Air Terjun Tibumana_Urvasu
Patung yang masih setengah jadi di jalan masuk menuju Air Terjun Tibumana

Air Terjun Tibumana, Dua Spot Berbeda dengan Suasana Berbeda

Akhirnya kami sampai di Air terjun Tibumana. Jalan masuk ke air terjun ini melalui sebuah Pura yang disebut dengan Pura Dalem. Ada sebuah warung kecil di dekat loket karcis. Dengan membayar sebesar Rp. 10,000 per orang kami langsung meluncur ke Air Terjun Tibumana. Jalan menuju air terjun ini bisa dibilang sudah tertata dengan rapi. Tangga-tangganya bagus dan terbuat dari beton. Selain itu ada pegangan dari besi serta pepohonan yang asri di sepanjang pinggiran jalan masuk.

Tukad Pecampuhan Air Terjun Tibumana_Urvasu
Tukad Pacampuhan di Genah Melukat air terjun Tibumana

Di pertenganhan jalan, terdapat petunjuk arah. Ke kiri adalah Air Terjun Tibumana, ke kanan adalah Genah Melukat (tempat melakukan pembersihan diri). Kami emutuskan untuk melihat genah melukat terlebih dahulu. Ada sebuah pura kecil disini dengan beberapa pancuran air di sebelahnya. Saya sempatkan diri berdoa di depan pura tersebut sebelum menuju ke pancuran-pancuran untuk membasuh muka dan tangan saya. Sesuai kepercayaan saya, membasuh kepala, muka, tangan, dan meminum sedikit air dari pancuran di Genah melukat bertujuan untuk membersihkan diri secara lahir dan bhatin. Ada sebuah pancuran yang rasa airnya agak manis (bukan iklan minuman lho ya, hehehehe). Setelah itu kami sempat duduk sebentar di sebuah balai-balai sambil melihat air yang mengalir melalui celah-celah bebatuan. Sangat menyenangkan dan saya terbawa suasana saat melihat air yang menggerus batu-batu tersebut.

Air Terjun Tibumana

Air terjun Kecil di Air terjun Tibumana_Urvasu
Air terjun kecil dalam perjalanan menuju Air Terjun Tibumana

Kembali ke persimpangan, kami menuju ke Air Terjun Tibumana. Saat itu jalan sedang diperbaiki, tapi masih bisa dilalui. beberpaa puluh meter sebelumnya, kami sudah bisa mendengar gemuruh suara air terjun. Ternyata ada air terjun kecil di perjalanan menuju kesana. Airnya lumayan jernih dan sangat menyenangkan melihat air yang jatuh dari tebing itu.

Lanjut ke Air terjun Tibumana, ternyata air terjunnya tidak terlalu tinggi. Airnya lumayan deras. Sayangnya, saat itu air sedang tidak terlalu jernih karena semalam sebalumnya hujan turun dengan cukup lebat. Walaupun demikian suasana di air terjun ternyata menyenagkan sekali. Kami sempat bermain-main air dan merasakan betapa percikan-percikan air yang diterbangkan angin sampai ke wajah kami terasa amat sejuk. Kelelahan menuruni tangga dan pengalaman tersasar beberapa puluh kilo jauhnya terbayar oleh keindahan dan kecantikan air terjun Tibumana. Meskipun tidak setinggi air terjun Gitgit atau Tegenungan, air terjun ini tetap memiliki pesonanya sendiri. Dikelilingi tebing yang membuat suara air terjun ini  sedikit menggema, gemuruh air terjun ini memberikan kesan megah.  Perjalanan ini dengan semua keunikannya benar-benar berkesan bagi saya.

Suara air terjun selalu menenangkan hati bagi saya. Air terjun selalu indah untuk dikunjungi, meskipun jalan menuju kesana berat untuk dilalui dan selalu terbayar dengan kecantikan air terjun. Gak seperti hati kamu, jalannya berat tapi gak ketemu-ketemu, eh malah curhat… Hehehe, gak usah lanjut curhat ya, tunggu cerita-cerita lainnya pada pos berikutnya 🙂

 

 

Sungai Badung: Sungai Tercantik di Denpasar

Sungai Tercantik di Denpasar_Urvasu
Tukad Badung di malam hari dilihat dari atas

Halo sahabat,

Suatu saat saya melewati sebuah jembatan di pusat kota Denpasar. Saya heran ada banyak orang yang melihat ke arah sungai, pikiran saya jangan-jangan ada orang yang kecemplung disana (hehehe, kalau di pikiran saya yang bisa mengumpulkan massa secara spontan di pinggir jalan hanya 2: orang bagi-bagi uang atau kecelakaan). Karena saya pikir itu adalah kecelakaan, jadi saya tidak ikut-ikutan menepikan kendaraan. Maklum lah, meskipun dulu kerja di rumah sakit dan sering liat pasien kecelakaan terbaring di UGD, bayangan si pasien akan terus bercokol di kepala sampai beberapa hari. Karena kepo, saya tetap melirik ke arah kerumunan, dan saya melihat bayangan lampu warna-warni berkelip. Hmm, bukan kecelakaan, tapi apa ya? Keponya malah nambah.

Sungai tercantik di Denpasar_Urvasu
Tukad Badung dilihat dari sisi selatan

Besoknya saya kesana untuk menuntaskan si kepo. Saya kesana agak sore, dan jeng-jeng sungai yang dulu terkenal banyak sampahnya itu ternyata sudah cantik. Ada tempat duduk dan lampu-lampu yang menghiasi tepinya. Selain itu,  ada air mancurnya juga! wih… gokil nih Pemkot Denpasar, menjadikan sungai Badung menjadi sungai tercantik di Denpasar (ini baru versi saya sih, hehehhe)

Sungai tercantik di Denpasar: tempat wisata gratis

Tukad (sungai dalam Bahasa Bali) Badung yang ditata menjadi Sungai tercantik di Denpasar ini, seingat saya dulunya adalah sungai yang bisa dibilang kotor. Banyak sampah di aliran sungai ini dan airnya juga lebih sering keruh meskipun tidak sedang musim penghujan. Sungai ini diapit oleh 2 pasar besar, Pasar Badung dan Pasar Kumbasari.  Para pedagang di sekitar aliran sungai ini juga membuang limbah mereka ke sungai jadi klop lah segala macam kotoran yang mencemari sungai ini.

Proyek penataan sungai ini sebenarnya telah dimulai pada bulan Juli 2017, dan dilakukan dalam beberapa tahap. Senderan sungai sudah mulai diperbaiki hingga aliran sungaipun dibuat agak berkelok. Di tepi sungai tercantik di Denpasar ini, ada beberapa tempat yang bisa digunakan untuk duduk-duduk santai dan menikmati indahnya lampu-lampu yang berkelip. Selain itu, ada air mancur yang juga dihiasi lampu yang tentunya juga bikin siapa saja betah berlama-lama disini. Saya saja betah duduk di pinggir sungai sampai satu jam lebih lamanya, hehehehe.

Sungai tercantik di Denpasar ini konon katanya terinspirasi sungai Cheong Gye Cheon  yang ada di Korea Selatan. Kalau dilihat di foto sih beneran mirip, bahkan menurut saya lebih cantik, tapi gak tahu aslinya sih. Semoga saya dapat kesempatan ke Korsel untuk melihat Cheong Gye Cheon, jadi saya bisa berikan cerita yang berdasarkan kisah nyata pada Sahabat (ngarep dot com, hehehehe).Sepertinya sungai cantik ini bisa jadi alternatif tempat wisata di tengah kota yang murah meriah, tapi tetap berkelas, hehehehe. Lumayan kan melepasakan penat saat pulang kerja dengan duduk-duduk di tepi sungai cantik dengan lampu warna-warni, barang kali aja bisa ketemu bidadari disini, hehehehe.

Sungai tercantik di Denpasar_Urvasu
Maskot Kota Denpasar di tepi Tukad Badung

Oh ya, saya sempat kirimkan foto sungai tercantik di Denpasar ini pada adik saya yang tinggal jauh di negeri orang. Dia langsung tahu lho kalau itu Tukad Korea-nya Denpasar. Banyak orang yang sudah pernah post di Instagram katanya. Wah keren juga nih, ternyata sungai ini sudah mulai dikenal, setidaknya di Medsos.

Penataan sungai di Denpasar

Penataan Tukad Badung sekarang memasuki tahap kedua, dimana rencananya akan dibangun jogging track-nya juga. MUngkin nanti kalau sudah bagus semuanya bisa bikin pertunjukkan atau pameran instalasi seni di sungai ini, pasti menarik. Apalagi bikin pertunjukkan tari diatas rakit yang bergerak menyusuri sungai hehehe. Ini sih sebatas pemikiran saya, tapi siapa tahu Pak Walikota baca blog ini hehehehe (masih tetap ngarep) Hmmm, gak sabar nih menungu semuanya kelar, pasti bakalan jadi tempat wisata unik di Kota Denpasar.

Ternyata tidak hanya Tukad Badung saja yang sudah ditata oleh Pemkot Denpasar, ada beberapa sungai lainnya yang juga ditata. Salah satunya adalah Tukad Bindu di Kesiman. Konon katanya dulu sungai ini sangat kotor, tapi sekarang sudah menjadi tempat rekreasi yang sangat menyenangkan. Kapan-kapan saya mau kesana dan ceritakan pada sahabat tentang cantiknya Tukad Bindu ya.

Sekali lagi, Tukad Badung buat saya adalah sungai tercantik di Denpasar. Salut banget buat Pemkot Denpasar yang memperbaiki tampilan sungai ini. Buat sahabat yang tinggal di Daerah Aliran Sungai (gak cuma sekitar DAS Tukad Badung, tapi dimanapun berada), jaga kebersihan DAS ya. Yuk kita jadikan sungai-sungai di sekitar kita seperti dulu lagi, bersih, jernih dan menyenangkan untuk dikunjungi.

Baca juga: Hamparan Sawah di Jati Luwih

Mencari Kain Endek Klungkung

Kain Endek Klungkung-Urvasu
Beberapa kain Endek Klungkung

Halo sahabat,

Sekarang saya mau lanjut lagi dari cerita post terdahulu. Setelah menikmati nasi tahu Sukawati dan berusaha menyelesaikan urusan saya di Sukawati, saya lanjutkan lagi perjalanan ke daerah Klungkung untuk mencari Kain Endek Klungkung. Saya berangkat dari Sukawati sekitar pukul 12.15 siang dengan cuaca yang luar biasa panas membara (dan kulit punggung tangan saya jadi gosong). Setelah sampai Desa Takmung, cuaca tiba-tiba mendung dan suhu udara jadi dingin. Tepat di depan RSUD Klungkung, hujan mulai rintik-rintik. Kepalang tanggung akhirnya saya tancap gas saja menuju Pasar Umum Klungkung.

Pasar Klungkung: Pusat Penjualan Kain Endek Klungkung

Setelah saya parkir motor di area depan pasar, saya bergegas masuk ke dalam pasar. Sampai di dalam pasar, saya berkeliling untuk melihat-lihat kain yang ditawarkan para penjualnya. Ada puluhan kios yang menjual kain-kain tradisional seperti endek, songket, hingga kain Gringsing, bahkan ada yang menjual kain ikat khas NTT.

Karena kali ini saya mencari kain Endek Klungkung, saya mau cerita sedikit tentang kain ini. Endek adalah kain yang ditenun dengan ATBM (alat tenun bukan mesin) yang motifnya dibuat dengan cara diikat lalu diwarnai. Jadi yang lebih ditekankan disini adalah kain yang bermotif. Motif kain Endek sangat banyak. Ada motif tradisional, motif yang meniru motif kain lain (misalnya Endek Lubeng yang meniru motif kain Geringsing), dan ada juga kain Endek yang motifnya disesuaikan dengan pesanan suatu instansi. Pegawai Negeri Provinsi Bali menggunakan baju dari kain Endek dengan motif logo Provinsi Bali (Bali Dwipa Jaya). Nah, kalau Klungkung adalah nama kabupaten di Bali yang memang terkenal karena menghasilkan Kain Endek dengan kualitas tinggi. Jadi Kain Endek Klungkung itu adalah kain Endek yang berasal dari petenunan di Kabupaten Klungkung.

Lanjut lagi ke perjalanan saya, hehehe… Saya kemudian masuk ke salah satu kios yang berada di tengah-tengah pasar. Didepan kios digantung banyak sekali kain Endek Klungkung. Salah satu kain tersebut menarik perhatian saya. Dengan warna hijau yang polos diisi dengan motif tumbuhan rambat yang benar-benar membuatnya cantik. Sayang kain ini harganya tidak sesuai anggaran, hehehe.

Memilih Kain Endek Klungkung

Karena setiap kain yang saya sukai harganya tidak seuai budget (kere, hehehe), jadi saya minta saja penjualnya mencarikan saya kain dengan harga sesuai budget saya. Penjualnya memberikan 10 lembar kain kepada saya dan saya mulai asyik memilih kain-kain tersebut. Motifnya semua cantik-cantik, dan saya mulai kebingungan pilih yang mana, karena hanya akan membeli 4 saja.

Kain Endek Klungkung_ Maroon_Urvasu
Salah satu dari 4 kain yang saya beli

Saya mau bagi-bagi tips untuk memilih kain Endek Klungkung agar sahabat mendapatkan kain yang bagus.

  1. Setelah memilih motif yang disukai, bentangkan kain hingga terbuka semuanya.
  2. Setelah kain terbentang, lihat motifnya. Apakah ada motif yang terpenggal atau hilang (misalnya bunga yang terpotong bagian tengahnya, atau motif yang tidak mulus bentuknya)
  3. Jika motif sudah OK, rabalah kain tersebut dan rasakan apakah ada benang yang menggumpal atau benang yang keluar dari tenunan.
  4. Perhatikan dengan seksama, apakah ada lubang di pertengahan kain. Pada saat meraba kain juga dapat dirasakan apakah ada lubang atau robekan pada kain.  Biasanya kain bisa berlubang dimakan serangga meskipun masih baru.

Jika semua sudah OK, maka sahabat bisa membeli kain tersebut.

Kain Endek Klungkung- Ungu- Urvasu
Salah satu Kain Endek Klungkung yang saya beli

Pengalaman saya saat membeli kain adalah secara sepintas kain itu sepertinya bagus, motifnya cantik, warnanya kalem, dan yang paling penting adalah sesuai budget. Saat saya bentangkan, motifnya tidak ada yang terpenggal. Duh, rasanya sudah ketemu jodoh eh, kain idaman. Saat diraba, dari ujung hingga pertengahan tidak ada masalah sampai akhirnya kelingking saya kesangkut di sebuah lubang kecil. Tiba-tiba saya merasa ada benarnya pepatah dunia tidak adil :(. Sialnya lagi, motif kain itu hanya satu-satunya yang dijual disana. Ya sudahlah, saya mesti relakan jodoh, eh, kain itu kembali ke rak dan dipotong untuk dijadikan udeng (Ikat kepala khas Bali) oleh ibu penjualnya.

Setelah mendapatkan 4 kain yang saya inginkan akhirnya tiba saat yang mendebarkan buat saya yaitu menawar hahahha... Setelah berdiskusi cukup lama akhirnya si Ibu memberi saya diskon Rp. 100,000 untuk semua kain yang saya beli. Lumayan buat beli tipat ayam lagi, hehehe.

Endek Klungkung_Urvasu
Motif favorit saya 🙂

Nah itu cerita saya tentang Kain Endek Klungkung. Bagus kan kainnya? Kalau ada yang minat boleh kok beli di saya, hehehehe becanda…. tapi kalo ada yang mau serius saya juga bisa seriusin kok (ehm…). Sampai jumpa di cerita berikutnya ya.