5 Alasan Harus Mengunjungi Njana Tilem Museum

Halo Sobat Urvasu, sebelum saya mengunjungi sang sastrawan Pekak Ketut Rida, saya sempat main ke Njana Tilem Museum di Desa Mas, Ubud. Tempat ini recommended banget bagi kalian pecinta seni. Berikut adalah 5 alasan versi saya mengapa Njana Tilem Museum harus jadi tujuan kalian saat berlibur.

Njana Tilem Museum main building_Urvasu
Bangunan utama Njana Tilem Museum

1. Koleksi Njana Tilem Museum yang Sangat Berharga

Njana Tilem Museum memiliki berbagai hasil seni ukir yang tidak ternilai harganya. Nama museum ini sendiri diambil dari nama dua maestro seni patung, Ida Bagus Njana dan Ida Bagus Tilem. Keduanya bisa dikatakan sebagai maestro yang mengembangkan gaya patung Desa Mas. Diantara koleksi ukiran ada yang sangat menarik perhatian, yakni patung yang memiliki tujuh wajah berbeda jika dilihat dari sudut atau posisi yang berbeda. Patung ini pernah ditawar oleh Raja Yordania, namun Ida Bagus Tilem tidak melepaskan patung ini. Bahkan sang raja sampai mengunjungi dua kali hanya untuk meminta patung tersebut agar dijual. Sang pemahat, Ida Bagus Tilem tetap tidak melepaskannya, dengan satu alasan yang luar biasa: jika patung tersebut dibawa ke Yordania, maka generasi selanjutnya di Bali tidak akan pernah melihatnya lagi dan tidak akan bisa belajar dari patung tersebut.

Selain itu, ada sebuah patung Dewi Sri yang ujung jarinya menyatu dengan bagian dada. Uniknya, pada pergelangan tangan patung ini ada gelang yang tidak menempel pada pergelangan patungnya dan bisa bergerak bebas. Bisa dibayangkan betapa patung ini memerlukan skill luar biasa tinggi untuk membuatnya. Ada juga koleksi yang sudah pernah dibawa ke Amerika Serikat lho. Patung ini dipelajari oleh seniman disana karena keunikannya. Kayu yang berlubang secara alami diubah menjadi karya dengan nilai seni yang sangat tinggi. Selain semua koleksi itu, ada banyak koleksi luar biasa yang dapat sobat temui disana.

Oh ya, di museum ini tidak boleh mengambil foto koleksi patungya, jadi kalau kalian kepo, kesana aja langsung untuk lihat koleksinya 🙂

2. Belajar sejarah perkembangan seni Patung

Selain menikmati keindahan patung di dalam museum, sobat bisa juga belajar tentang sejarah perkembangan seni patung gaya Mas. Karya-karya Ida Bagus Njana dan Ida Bagus Tilem berkembang dari waktu ke waktu. Dari masa-masa awal Beliau membuat patung hingga menjadi gaya pahatan patung yang kita lihat sekarang ini mengalampi proses yang sangat panjang, bahkan sepanjang hidup kedua maestro tersebut.

Selain itu, sobat juga dapat belajar tentang sejarah hubungan diplomasi Indonesia dengan negara-negara sahabat. Seni patung menjadi salah satu media diplomasi antara Indonesia dan negara lain.

Njana Tilem Museum main gate_urvasu
Kori Agung di Njana Tilem Museum, elegan tanpa ukiran yang rumit

3. Bangunan Megah yang Elegan

Daerah sekitar Gianyar terkenal dengan bangunan yang didominasi oleh bata merah yang dihiasi dengan batu paras (padas). Njana Tilem Museum mematahkan stereotip itu. Alih-alih menggunakan bata merah, semua bangunan termasuk Kori Agung (pintu gerbang utama) hingga bangunan utama yang luar biasa megah terbuat seluruhnya dari batu padas.

Semua bangunan di tempat ini jauh dari ukiran-ukiran rumit di sekilingnya. Ukiran yang minim ini lah yang membuat bangunan ini jadi terlihat sangat elegan. Megah dan elegan. Buat saya, ini adalah cara yang tepat untuk membangun sebuah tempat yang menumpan ukiran-ukiran berharga. Eksterior yang megah namun elegan menyimpan ukiran luarbiasa di dalamnya. Saling melengkapi, sehingga pengunjung tidak teralihkan perhatiannya akan detail yang ditampilkan oleh eksteriornya.

4. Suasana yang menyenangkan

Njana Tilem museum sangat luas. Mata akan dimanjakan pemandangan hijau rumput-rumput yang terawat dengan sangat baik. Banyak pohon besar yang memberikan naungan dan rasa sejuk. Kolam dengan bunga-bunga lotus yang dibelah oleh sebuah jembatan kayu menambah nyaman suasana di tempat ini.

Ada sebuah Bale Bengong yang bias digunakan untuk beristirahat dan menikmati suasana sekeliling tempat indah ini. Suara air gemericik dari kolam lotus akan membuat betah berlama-lama disana.

5. Musik yang membuat tenang

Suasana yang menyenangkan di Njana Tilem Museum bertambah lengkap dengan suara music yang membuat tenang. Musik ini dapat dinikmati saat kita berada di halaman museum. Benar-benar menghanyutkan, musik yang tenang ditambah suasana yang nyaman  dijamin membuat lupa waktu saat berada di museum ini.

Njana Tilem Museum guide_Urvasu
Pak Hadi, pemandu di Njana Tilem Museum yang mengantar saya berkeliling

 Nah itu dia 5 alasan kenapa Sobat Urvasu harus main ke Njana Tilem Museum. Jika sudah sempat kesana, jangan lupa berbagi pengalaman di kolom komentar ya. Sampai jumpa pada postingan selanjutnya.

 

Iklan

Pekak Ketut Rida: Sastrawan Bahasa Bali peraih Rancage

Sobat Urvasu, kali ini saya mau cerita tentang jalan-jalan saya ke Klungkung. Kalau sebelumnya saya ke Klungkung mencari kain endek, kali ini saya kesana untuk bertemu dengan seorang sastrawan Bahasa Bali yang sudah malang melintang di dunia Sastra Bali. Beliau adalah Pekak (kakek) I Ketut Rida. Pengarang dengan begitu banyak karya yang tersebar di majalah, koran dan terbitan lainnya.

Sastrawan Bahasa Bali I Ketut Rida_Urvasu
Sastrawan Bahasa Bali I Ketut Rida

Mengunjungi Pekak Rida

Sehari setelah Hari Raya Kuningan, saya menghabiskan waktu untuk melali. Pemberhentian saya yang pertama adalah Njana Tilem Museum, lalu setelah puas disana saya pun melanjutkan perjalanan ke Sulang. Tujuan pertama saya adalah rumah Mbok Nengah, yang sudah menjadi keluarga kedua saya. Dulu saat KKN, rumah Mbok Nengah adalah tempat saya menghabiskan waktu  saat kegiatan sedang senggang. Anak-anak Mbok Nengah juga sudah seperti adik saya sendiri, bercanda hingga saling ejek sudah menjadi kegiatan sehari-hari kami, bahkan berlanjut sampai sekarang melalui WA 😀

Saat saya datang, ternyata sedang dilakukan upacara Penyineban di Pura Dalem Sulang, dan kebetulan keluarga Mbok Nengah yang bertugas saat itu. Rumahnya kosong, jadi saya disana menghabiskan waktu dan makanan sembari menunggu anak-anak Mbok Nengah datang dari melaksanakan tugas.  Setelah berbincang-bincang dan beberapa puluh foto selfie, saya meminta salah seorang dari mereka mengantarkan saya mengunjungi sastrawan terkenal dari Sulang, Pekak Ketut Rida.

Sastrawan bahasa Bali I Ketut Rida_Urvasu
Pekak Ketut Rida dan bukunya, Lawar Goak. Tetap semangat di usia senja

Ternyata rumah Pekak Rida tidak terlalu jauh dari rumah Mbok Nengah. Duh, ternyata di gang kecil itu, padahal 6 tahun lalu saat masih KKN saya sering lewat gang itu dan tidak tahu kalau itu adalah rumah Pekak Rida.  Saat itu Pekak Rida baru saja selesai mandi dan duduk di terasnya. Saya masuk rumah dan setelah mengucapkan salam menghampiri Beliau. Anggota keluarga yang lain juga ikut datang menyambut saya. Karena saking seringnya Pekak Rida menerima mahasiswa, saya ditanya dari kampus mana. Hehehe saya jadi merasa muda 😀

Ternyata Pekak Rida sedang sakit. Beberapa waktu yang lalu,  Beliau dirawat selama sebulan di RSUP Sanglah Denpasar. Meskipun demikian, Beliau menyambut saya dengan tangan terbuka, seraya meminta maaf karena mungkin nanti tidak bisa menjawab pertanyaan saya karena sudah pikun. Beliau adalah kelahiran tahun 1939, genap 80 tahun. Keriput serta gurat-gurat usia terlihat dengan jelas, namun mata yang berbinar penuh semangat mengalahkan pemuda manapun yang pernah saya lihat.

Sastrawan Bahasa Bali: Prestasi Pekak Rida dari masa ke masa

Sejak kecil, Pekak Rida telah menggeluti dunia Sastra Bali, baik kesusastraan Bali Kuno maupun Kesusastraan Bali Anyar (modern). Dengan latar belakang Pendidikan di sekolah guru, Pekak Rida mengabdikan hamper seluruh hidup Beliau pada dunia Pendidikan, Sastra, dan social kemasyarakatan. Kiprahnya telah dimulai dari masa kuliah saat salah seorang dosennya mengetahui bakatnya dan memintanya membuat novel 80 halaman untuk diikutkan pada Pesta Kesenian Bali. Sejak tahun 1977 beliau mnorehkan prestasi sebagai juara sayembara cerpen Bahasa Indonesia Guru SD tingkat Provinsi Bali. Tahun-tahun berikutnya pun sarat dengan prestasi dari berbagai perlombaan. Tahun 1980 menjadi pemenang lomba novel berbahasa Bali, dan tahun 1982 menjadi pemenang kedua lomba membuat “geguritan” (tembang) dan tahun 1991 menjadi juara I lomba menulis cerpen Bahasa Bali di Harian Bali Post.

Selain mengikuti berbagai perlombaan, Pekak Rida juga sangat aktif menulis. Pada rentang tahun 1970-1990 ada begitu banyak karya beliau yang diterbitkan dalam harian Bali Post. Selain itu juga diterbitkan dalam majalah Canang Sari. Kumpulan puisi Beliau yang berjudul Nyisik Bulu diterbitkan oleh Balai Bahasa Denpasar pada tahun 2004. Novel Sunari yang diterbitkan Yayasan Obor tahun 1999 mengantarkan Beliau sebagai pemenang penghargaan bergengsi Rancage di tahun 2000.

Kenangan Pekak Rida: Menghargai sang Guru

Selain berbicara tentang kegiatan tulis menulis Beliau, kami sempat mengobrol lama tentang masa-masa beliau belajar menulis. Kendati jejak usia yang telah Beliau lewati, semangat yang sangat besar saat bercerita tentang masa-masa belajar membuat saya terharu. Dengan tatapan mata yang tajam dan berbinar, Belai menceritakan tentang guru dan dosen Beliau dengan penuh rasa bakti dan penghargaan setinggi tingginya.

” Saya pernah diajar oleh Dr. Goris, seorang Belanda ahli Sastra Jawa Kuno, Prof Mantra yang pada saat itu belum jadi Prof, serta Dr. I Gusti Ngurah Bagus. Begitu baik dan pintarnya Beliau semua mengajar, saya rasa tidak ada satu gurupun di masa sekarang yang bisa menyamai Beliau semuanya ” Begitu tutur Pekak Rida dalam Bahasa Bali, dengan pandangan penuh semangat yang terus terang saja membuat saya merasa kembali menjadi anak sekolah. Sungguh kerendahan hati yang sangat menggugah saya, Seorang sastrawan Bahasa Bali dengan pencapaian yang sedemikian rupa tidak melupakan guru-gurunya, serta mengenang mereka dengan penuh rasa hormat.

Sastrawan Bahasa Bali I Ketut Rida_Urvasu
Karya Pekak Ketut Rida: Lawar Goak

Kami masih mengobrol beberapa lama, membicarakan cerita yang beliau karang, novel Sunari yang merupakan novel berbahasa Bali pertama yang saya baca, hingga cara menulis Beliau yang mendeskripsikan suatu situasi dengan sangat apiknya. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 18.30. Saya pamitan pada Beliau dan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Beliau membekali saya sebuah buku berjudul Lawar Goak, kumpulan cerpen beliau yang diterbitkan tahun 2014. Tidak hanya itu, Beliaupun membubuhkan tanda tangan pada halaman pertama sesuai permintaan saya.

Terima kasih banyak Pekak Rida, atas sumbangsihnya pada sastra Bali dan inspirasi pada kami semua. Semoga sehat selalu dan semangat memberikan inspirasi kepada anak-anak muda.

 

 

Sehari menjelajah: Transportasi terpercaya di Banyuwangi

Lanjut lagi tentang pengalaman saya di Jawa Timur. Setelah menyelesaikan pekerjaan saya di Kediri, saya melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi. Saya sampai Banyuwangi pada pukul 12 malam, lalu langsung beristirahat untuk mempersiapkan kerja keesokan harinya. Karena saya dalam urusan bekerja, saya tidak menggunakan kendaraan umum, melainkan menyewa sebuah mobil beserta sopir untuk mengantarkan saya ke tempat yang akan saya tuju.

Saya merasa sangat beruntung hari itu karena pengalaman di Banyuwangi pada hari itu sangat menyenangkan, setelah sehari sebelumnya perjalanan saya dari Surabaya ke Banyuwangi benar-benar penuh dengan drama. Mobil yang saya sewa sangat bersih dan wangi, selain itu drivernya juga sangat baik, ramah, dan sigap.

Mencari Transportasi Terpercaya di Banyuwangi

Sebenarnya saya menemukan Bintang Wangi Transport (BWI Transport) ini melalui internet. Ditengah kebingungan saya dalam mencari transportasi, saya menemukan websitenya. Simple namun sangat informatif.  Saat chat dengan nomor WA yang tertera di webnya, langsung dijawab dalam hitungan menit. Selain responsive, CS nya juga sangat informatif. Karena CS nya yang memeberikan kesan yang sangat baik di awal, akhirnya saya memutuskan untuk memesan sewa mobil selama sehari dan jasa travel Banyuwangi-Bali untuk kembali ke Denpasar.

Kekonyolan saya terjadi saat akan melakukan pembayaran. Dari total pembayaran sebesar Rp. 650.000, saya harus membayar DP sebesar Rp. 200.000. Namun saat akan membayar pikiran saya tidak focus karena harus mengejar beberapa hal yang wajib diselesaikan sebalum berangkat ke Jawa Timur. Alih-alih membayar Rp. 200,000 saya malah mentransfer Rp. 2.000.000. Duh bodohnya saya! apalagi uang itu adalah uang kantor yang akan saya gunakan untuk berbagai keperluan di Jawa Timur nanti. Ya Tuhan… kepala saya langsung cenut-cenut.

Sayapun langsung menghubungi CS nya dan menyampaikan salah transfer tadi. Ketakutan saya adalah CS tidak akan mengembalikan uang tersebut karena takut ditipu. Belakangan memang ada banyak modus penipuan dengan cara mengirimkan transfer lebih lalu minta dikembalikan. Tapi ternyata ketakutan saya itu tidak beralasan. Uang saya dikembalikan sebesar Rp. 1.350.000. Jadi dipotong sebesar biaya totalnya. Inipun CS sudah meminta pesetujuan saya terlebih dahulu. Biaya transfer pun tidak dipotong, padahal saya sudah setuju untuk langsung dipotong biaya transfer. Wah saya jadi merasa beruntung mendapatkan penyedia jasa transportasi terpercaya di Banyuwangi.

Bintang Wangi Trans Transportasi terpercaya di Banyuwangi
Kontak Bintang Wangi Trans

Sehari Di Banyuwangi

Setelah di awal saya merasa sangat puas karena menemukan  penyedia jasa transportasi terpercaya di Banyuwangi melalui internet, saya penasaran apakah pelayanannya akan sebaik pelayanan CS nya. Ternyata pelayanan transportasinya sebaik layanan CS nya!

Semalam sebelum saya sampai di Banyuwangi, saya sudah diinformasikan driver yang akan menjemput saya. Setelah dari CS mengirimkan kontak driver, tidak berselang berapa lama saya mendapatkan pesan dari driver untuk melakukan konfirmasi jam penjemputan serta tempat penjemputan.

Pagi-pagi, saya sudah mendapatkan pesan dari Pak Tino, driver yang menyampaikan bahwa sudah dekat, namun terjebak macet, sehingga akan terlambat beberapa menit. Tidak sampai 15 menit, driver sudah muncul di hotel. Wah, ini jempolan nih pelayanan pelanggannya!

Karena saya berada di Banyuwangi dalam urusan kerja, tentunya saya memiliki target yang harus saya kejar. Ada beberapa tempat yang harus saya kunjugi dan beberapa barang yang  harus saya beli. Karena baru pertama kali ke Banyuwangi, saya merencakan kunjungan saya dengan kurang cermat. Pak Tino memberikan saya masukan kemana yang harus saya kunjungi terlebih dahulu. Tapi karena saya memang salah ambil posisi menginap, jadilah kami bolak-balik beberapa kali. Meskipun demikian, Pak driver saya sangat sabar dan telaten mengantarkan saya ke tempat tujuan.

Ditengah pekerjaan yang padat merayap, saya masih sempat diajak makan di tempat makanan khas Banyuwangi lho. Gak nyangka kalau waktu yang mepet ini masih sempat makan makanan khas. Jempolan deh Pak Tino yang bisa mengatur waktunya sedemikian rupa.

Setelah pekerjaan selesai, saya harusnya menunggu di daerah Srono. Hal ini karena saya tidak kembali ke penginapan, melainkan langsung akan naik travel ke Denpasar.  Sebelum waktu habis, saya meminta Pak Tino untuk mampir dulu ke Kantor Bintang Wangi Transport untuk meminta stempel pada kuitansi. Sayapun diantar kesana. Diluar dugaan, saya malah ditawari istirahat dan akan diantar ke pool mobilnya oleh Mas Davin, pemilik Bintang Wangi Transport. Wah benar-benar keberuntungan saya mendapatkan transportasi terpercaya di banyuwangi.

Baca juga: Berbagai Jenis Tari Legong

Kembali ke Denpasar dengan Transportasi terpercaya di Banyuwangi

Saya kembali ke Denpasar dengan menaiki travel. Karena saya datang paling awal, sayapun diajak untuk menjemput penumpang-penumpang lainnya. Pengalaman yang menyenangkan karena saya diajak berkeliling ke pelosok-pelosok daerah Banyuwangi. Berbagai daerah persawahan dan perkebunan jeruk dan buah naga saya lewati. Pengalaman ini juga tambah menyenangkan karena drivernya (maaf mas, saya lupa namanya) banyak bercerita tentang hal-hal yang kami lewati. Mulai dari tempat peribadatan Agama Hindu di Banyuwangi dan perayaan Nyepi, Kebun Jeruk, hingga buah naga yang diterangi lampu di malam hari.

Saya sampai di Denpasar pada pukul 4 pagi. Saya bersyukur bahwa saya bertemu dengan penyedia jasa transportasi terpercaya di Banyuwangi. Terima kasih Bintang Wangi Travel atas bantuannya, pekerjaan saya selesai dengan baik, pengalaman barupun banyak saya dapatkan.

*sayangnya saya lupa foto dengan Pak Tino dan Mas Davin jadi foto diambil dari websitenya Bintang Wangi Travel 🙂

Makan di Kediri: Nasi Pecel Tumpang

Bulan lalu, saya dapat kesempatan untuk melali ke Kediri pada bulan Juni kemarin. Tentunya bukan 100% melali, tapi ada urusan pekerjaan yang harus diselesaikan. Setelah pekerjaan beres, jadilah waktu yang tersisa dimanfaatkan untuk sekedar melali.

Tidak pas rasanya jika tidak menikmati makanan khas daerah tempat kita berkunjung, karenanya saya sempatkan mencicipi makanan khas Kediri di malam hari. Waktu yang sangat terbatas membuat saya hanya bisa menikmati Nasi Pecel Tumpang dan Getuk Pisang saja, padahal masih ada beberapa rekomendasi yang tidak bisa saya nikmati, seperti pecel Punten dan tahu Kediri yang sudah terkenal enaknya di seantero Pulau Jawa. Sekarang saya mau cerita dulu tentang si Pecel Tumpang, hehehe.

Pedagang nasi pecel tumpang
Pedagang nasi pecel tumpang yang paling ramai di Jalan Dhoho

Makan di Kediri: Pecel Tumpang jalan Dhoho

Jalan Dhoho adalah jalan yang tak pernah tidur di Kediri. Dari pagi, menjadi pusat perekonomian dengan berbagai toko yang berjejer di kedua pinggir jalan ini. Mulai dari toko kebutuhan sehari-hari, tas dan sepatu, makanan khususnya tahu, peralatan elektronik, hingga toko emas dapat ditemui di sekitar jalan Dhoho. Saat mentari terbenam, kawasan ini tetap hidup sebagai pusat kuliner.  Gaya makan lesehan yang penuh dengan suasana keakraban adalah ciri khas tempat makan di pinggir Jalan Dhoho.  Ada begitu banyak makanan yang bisa ditemui di emperan toko, namun yang paling banyak bisa ditemui adalah pecel dan tumpang, berbagai jenis nasi goreng serta minuman hangat seperti ronde dan angsle.

makan di jalan Dhoho
Makan lesehan malam hari di Jalan Dhoho

Saat sampai di Kediri, driver travel yang menjemput saya, mas Shofwan memberi tahu saya tempat jika ingin makan di kediri pada malam hari, Jalan Dhoho adalah tempat yang harus dikunjungi. Di jalan ini terdapat penjual Pecel Tumpang yang sangat ramai. Sepanjang jalan Dhoho, tempat ini yang paling banyak dikunjungi oleh penikmat kuliner malam di Kediri.

Mengikuti saran mas Shofwan, saya meluncur menuju Jalan Dhoho dan mencari penjual pecel tumpang yang paling ramai dikunjungi pembeli, hingga sampailah saya pada Pecel Bu Anik. Saking ramainya, saya sampai tidak melihat tulisan special pedas pada spanduknya, hehehe.

Nasi Tumpang Bu Anik

Setelah memesan satu pecel tumpang ditambah telur dadar dan sate usus, saya mencari tempat duduk di tikar yang digelar di trotoar. Setelah duduk manis saya mulai makan pecel yang baunya menerbitkan selera makan. Suapan pertama masuk mulut dan saya mendapatkan kejutan! Wih, pedasnya langsung memenuhi lidah dan rongga mulut. Pecel yang biasa saya makan rasanya cenderung manis dengan rasa kacang yang kuat, tapi ini lebih dominan pedas dengan rasa kacang yang tidak terlalu kuat.  Isi pecelnya mirip dengan pecel yang pernah saya makan di Jogja, dengan khasnya memakai bunga turi yang direbus dilengkapi dengan potongan timun. Satu lagi, peyek yang melimpah jumlahnya menambah seru menikmati makanan pedas ini.

Nasi Pecel Tumpang Kediri
Nasi Pecel Tumpang Kediri dengan peyek yang berlimpah

Ada sedikit rasa agak asam yang saya rasakan saat makan nasi pecel tumpang ini. Ternyata rasa asam ini berasal dari sambel tumpang yang dicampur dengan nasinya. Rasa yang agak asam, sedikit pedas dan aroma yang khas membuat saya susah untuk menjelaskan. Meskipun lumayan kepedasan, anehnya saya tidak bisa  berhenti makan meskipun beberapa kali berhenti sejenak untuk meredakan rasa yang pernah ada  eh, rasa pedas yang membuat air mata dan keringat mengucur. Selesai makan, saya hanya membayar Rp.18.000 untuk semua makanan yang saya pesan malam itu

Sedikit informasi, tumpang adalah sejenis sambal yang dibuat dari tempe yang sengaja dibusukkan. Menurut penuturan warga Kediri, hanya jenis tempe tertentu saja yang bias dibuat tumpang. Selain itu, rasa tumpang Kediri akan berbeda tumpangdari daerah lain, meskipun berdekatan lokasinya dengan Kediri.

Itu dia pengalaman saya saat makan Nasi Pecel Tumpang di Kediri. Makanan baru yang menambah perbendaharaan rasa. sampai jumpa pada cerita tentang makanan berikutnya 🙂

Ringkasan Cerita Malat: Cerita Panji dari Bali bag 2

Yuk kit alanjut lagi cerita tentang Panji dari Bali: Malat. Jika sebelumnya saya telah ringkaskan ceritanya hingga Panji sampai di Trate Bang, sekarang kita lanjutkan dengan perjalanan Panji di Gegelang.

Upacara di Gunung Mengebel: Cerita Panji dari Bali

Cerita_panji_dari_Bali
Puteri Gegelang Bersama dengan dayang-dayangnya

Raja Gegelang sedang mengadakan upacara besar di Gunung Mengebel sebagai pembayaran kaulnya pada para dewa yang ada di Gunung Mengebel. Seisi kerajaan sedang berada di Gunung Mengebel, termasuk para prajurit dan perwira yang sebagian besar mengikuti acara tersebut. Putri Gegelang, Ratna Ningrat, yang sedang patah hati karena ditinggal oleh Wiranantarja juga ikut serta dalam rombongan raja pada upacara di Gunung Mengebel. Keadaan kota raja bisa dikatakan sepi, hanya beberapa penduduk yang tidak bisa ikut bepergian jauh yang tinggal di kota raja.

Kejadian ini dimanfaatkan oleh Raja Kabalan dan Pamotan utnuk menguasai kota raja. Raja Kabalan menaruh dendam pada raja gegelang karena ayahnya telah dibunuh pada saat perang oleh Raja Gegelang. Karenanya ia menyerang Gegelang pada saat kerajaan sepi. Setelah kerajaan dikuasai, ia menyerang raja yang sedang dalam perjalanan pulang ke Gegelang. Raja Gegelang diserang di desa Rabut Palah. Raja yang tidak siap berperang ditawan oleh Prabu Kabalan dan Pamotan.

Setelah berhasil menaklukan kerajaan Gegelang, kedua raja ini kemudian merayakan kemenangannya dengan cara makan dan minum sepuasnya di Keraton Gegelang. Karena mabuknya, kedua raja ini bahkan menggunakan daerah sitinggil (ruang tahkta) untuk bermabuk-mabukan. Saat kedua raja bermabuk-mabukan di dalam istana, prajuritnya melakukan penjarahan di luar istana.

Panji Memasuki Gegelang

cerita_panji_dari_bali
Raden Panji Malat Rasmi, Pangeran Jenggala dalam penyamaran

Saat panji sampai pada perbatasan kota raja Gegelang, Ia melihatr abnyak orang yang berduyun-duyun mengungsi. Iapun bertanya kepada para pengungsi, mengapa mereka meninggalkan ibu kota kerajaan. Mendengar penjelasan pengungsi, Panji lalu memutuskan untuk menolong pamannya.

Sesampainya di istana, Panji melihat bahwa Raja Kabalan dan Pamotan menguasai sitinggil. Karena itu, panji dan pasukannya tidak bias langsung menyerang karena tidak boleh ada darah ayng tertumpah di areal sitinggil. Mereka menyusun rencana dengan memancing kedua raja tersebut keluar sitinggil dan berperang di luar tembok istana. Saat Raja Kabalan dan Pamotan bersenang-senang di dalam sitinggil, pasukan kecil yang dipimpin Panji mengacau lalu berlari ke luar istana. Sesampainya di luar istana, perang sengit terjadi. Pasukan Panji dan kerajaan Kabalan dan Pamotan bertempur habis-habisan. Raja Kabalan dan Pamotan tewas dalam pertempuran itu.

Panji membebaskan Raja Gegelang, sementara ia mengirimkan seorang Menteri untuk memberitahukan kerajaan Kabalan dan Pamotan bahwa raja mereka telah wafat di medan pertempuran. Saat itu juga, Kabalan dan Pamotan menjadi bawahan Gegelang. Permaisuri kedua kerajaan memutuskan untuk melakukan satya, lebih baik mati daripada menjadi tawanan perang. Panji kemudian menjadi patih di kerajaan Gegelang. Ia mendapatkan tempat tinggal di lingkungan istana.

Perang di Singasari

Setelah Panji berada di Gegelang beberapa lama, tiba-tiba datang utusan dari Singasari yang meminta pertolongan karena Singasari diserang oleh Pajarakan. Raja Singasari menolak untuk menyerahkan Ratna Mretta kepada Raja Pejarakan, sehingga raja Pejarakan menyerang Singasari untuk mendapatkan Ratna Mretta. Saat Panji sampai di Singasari, perang sedang berkecamuk dan pasukan Singasari hampir dipukul mundur. Singkat cerita, Panji berhasil mengalahkan Pejarakan. Ia kemudian tinggal di Singasari untuk beberapa waktu.

Saat tinggal di Pejarakan, Panji jatuh cinta dengan Puteri Singasari. Puteri Ratna Mretta pun jatuh cinta kepada Panji. Karena sebenarnya sudah dijodohkan, panji berniat untuk membawanya pergi ke Gegelang sebagai pendampingnya. Mereka merencanakan Kawin lari. Pada suatu malam, Panji menyamar sebagai perampok dan menculik Ratna Mretta. Setelah mengamankan sang puteri di perbatasan, Panji kembali ke Singasari dan berkata kepada raja bahwa ia akan mencari Ratna Mretta dan membawanya kembali. Ia mohon pamit untuk melakukan pencarian.

 Dalam perjalanannya kembali ke Gegelang, Panji menaklukan Kerajaan Pandan Salas. Ratna Mretta kemudian diminta untuk berpura-pura menjadi Putri Pandan Salas agar tidak ada yang mencurigainya di Gegelang. Sesampainya di Gegelang, semua orang heboh melihat kecantikan Ratna Mretta, sang Putri Pandan Salas. Kecantikkannya dibandingkan dengan Putri gegegalng. Sebagian orang yag pernah ke Pandan Salas mencurigainya karena Raja Pandan Salas tidak memilki puteri.

Panji menemukan saudaranya, Pangeran Prabangsa juga mengabdi kepada Raja Gegelang. Prabangsa mengenali Panji sebagai pangeran Jenggala, namun Panji tidak menyadari bahwa itu adalah saudara tirinya. Prabangsa tidak suka akan kehadiran Panji, terlebih lagi raja menunjukkan rasa sukanya setelah Panji kembali dan memadamkan kerusuhan di Singasari.

Pangeran Daha kembali ke Jawa : Cerita Panji dari Bali

Kita tinggalkan Panji di Gegelang dan menuju Melayu, tempat kediaman Pangeran Daha. Raja Melayu yang sudah turun tahta dan menjadi pertapa, tiba-tiba kembali ke kerajaan dan memberitahu Wiranantarja bahwa ia akan menemukan saudara perempuannya jika ia kembali ke Jawa dan mengabdi pada Raja Gegelang. Wiranantarja kemudia diizinkan kembali ke Jawa dan ia dibtemani 700 orang pilihan dari Melayu yang diangkut tiga kapal besar. Saat kapal melayu sudah sampai tengah laut. Raja Pertapa Melayu meninggal. Sebagian orang melayu kembali ke Melayu, sementara Wiranantarja tetap melanjutkan perjalanan ke Jawa.

Dua kapal Melayu terlihat akan merapat di Pelabuha Tuban. Orang-orang Tuban panik dan melapor pada Adipati Tuban, kapal perang besar dengan senjata lengkap sedang merapat. Sang Adipati segera ke pelabuhan dan menyiapkan orang-orangnya untuk berjaga-jaga. Setibanya di pelabuhan, Kapal Melayu telah merapat dan Orang Melayu telah berkemah. Adipati mendekati dan berunding. Setelah tahu bahwa orang Melayu dating dengan damai, legalah orang Tuban. Adipatipun berjanji akan menunjukkan jalan ke Gegelang. Singkat cerita, Sri Ajin Melayu menuju Gegelang setelah beribadah di beberapa kuil.

Sesampainya di Gegelang, raja menyambut Sri Ajin melayu dengan ramah tamah. Beliau memberikan tempat dekat kepatihan pada orang asing tersebut. Ia kemudian berteman baik dengan Prabangsa, meskipun belakangan ia melihat gelagat kurang baik yang diperlihatkan Prabangsa. Sebenarnya Raden Prabangsa tidak suka dengan Raja Melayu, karena ia taku akan disaingi menjadi kesayangan raja. Kesempatannya utnuk mempersunting Ratna Ningrat akan berkurang dengan adanya Raja Melayu di istana. Saat Panji kembali dari Singasari, Raja Melayu kemudian menjalin persahabatan dengan Panji.

Nah sobat Urvasu, demikian dulu cerita Panji dari Bali bagian 2. Karena ceritanya masih lumayan panjang, ringkasan cerita Malat ini akan disambung pada bagian 3. Sampai jumpa pada cerita Panji dari Bali selanjutnya 🙂

 

 

Nasi Krawu Enak di Denpasar

Saya banyak ketemu teman baru di kelas Gapura Digital Google. Salah satunya adalah Pak Arif, yang memperkenalkan saya pada makanan khas Gresik: Nasi Krawu. Pak Arif jualan Nasi Krawu secara online. Awalnya saya bingung, apaan sih Nasi Krawu? Namanya kok asing, rasanya enak gak ya? Ya gitu deh, kalau dengar yang baru-baru tingkat kepo saya langsung naik 2x lipat, hehehe.  Sebelumnya saya tidak pernah tahu ada Nasi Krawu enak di Denpasar, bahkan mendengarnya saja baru kali ini.

Nasi_Krawu_di_Denpasar_Urvasu
Tapilan Nasi Krawu dari atas, lauknya berlimpah

Mengenal Nasi Krawu

Mungkin Sobat Urvasu sama bingungnya dengan saya saat mendengar Nasi Krawu. Nasi Krawu adalah makanan khas dari Gresik. Nasi yang pulen disajikan dengan dua jenis serundeng, manis dan gurih. Selain kedua serundeng ini, Nasi Krawu original isinya adalah daging sapi, semur daging, dan jeroan sapi.  Nasi beserta semua lauk ini dibungkus dengan daun pisang. Tidak lupa nasi dan lauk ini dilengkapi dengan sambal terasi.

Awalnya saya tidak tertarik dengan Nasi Krawu ini, karena menggunakan daging sapi sebagai lauknya. Saya tidak makan daging merah, karenanya semua makanan dengan daging sapi tidak menarik bagi saya. Saat Pak Arif mengenalkan Nasi Krawu yang menggunakan daging ayam, saya langsung tertarik untuk mencobanya.

Baca juga: Sup Kepala Ikan di Pantai Matahari Terbit

Nasi krawu Enak di Denpasar: Ini Jagoan

Saya memesan Nasi Krawu pada Pak Arif untuk makan siang dengan teman-teman. Karena melihat fotonya yang sepertinya kecil jadilah saya pesan lebih, untuk jaga-jaga jika nasinya kurang, hehehehe. Jam makan siang pun datang, saya sudah tidak sabar untuk makan Nasi Krawu ini.

Karena Nasi Krawu dengan nama Ini Jagoan by pak Arif ini sudah dimodifikasi, tampilannya juga sudah dimodif. Nasinya tidak lagi dibungkus dengan daun pisang, tapi dengan kemasan yang lebih praktis. Saat tutupnya dibuka, yang kelihatan adalah lauknya. Serundeng dua rasa dengan dua warna yang cantik, sambal terasi, daging ayam yang bentuknya seperti ayam suir serta jeroan ayam yang dibumbui. Nasinya gak kelihatan lho, ketutup lauk semua.

Mulailah saya  mencicipi nasinya. Luar biasa pulen! Serundeng manis dan gurihnya benar-benar klop rasanya, terutama saat dimakan dengan nasinya yang pulen itu. Tekstur daging ayam suwirnya tidak keras, tidak pula terlalu lembek, jadi pas banget saat dimakan dengan si nasi pulen itu. Yang bikin saya penasaran adalah jeroan ayam yang dibumbui. Saya tidak tahu ini namanya apa, tapi bumbunya tidak terlalu keras. Ada rasa santannya, tapi bumbunya ringan, tidak bikin enek. Racikan makanan ini benar-benar klop, membuat saya tidak berhenti menyuapkan makanan ke dalam mulut.

Nasi_Krawu_enak_i_denpasar_Urvasu
Nasi Krawu kemasan modern, Ini Jagoan

Nah balik lagi tentang porsinya, kemasan yang kelihatan kecil ternyata menipu saya. Satu porsi nasi krawu ini cukup membuat saya kenyang. Ditemani segelas teh panas tawar, makan siang dengan Nasi Krawu kali ini pas buat saya. Oh ya, masih ada satu box nasi yang lebih karena ternyata nasinya sudah membuat kenyang. Akhirnya Nasi Krawunya saya diamkan di pantry dan saya bawa pulang. Saya kira nasinya akan rusak karena sudah lebih dari lima jam dari saat dibawakan oleh Pak Arif. Sampai di rumah saya buka nasinya, dan tadaa… tidak  basi dan rasanya tidak berubah lho!

Tidak hanya rasa dan porsi yang pas, harganya juga pas banget buat saya. Gak cuma itu, Pak Arif mengantarkan Nasi Krawu ini ke tempat saya bekerja tanpa ongkos kirim! Wah benar-benar berkah deh makan siang saya hari ini.

Bagi Sobat Urvasu yang penasaran, atau lagi cari-cari Nasi Krawu enak di Denpasar, boleh kepoin instagramnya Ini Jagoan buat liat Nasi Krawunya. Kalo udah liat jangan lupa coba ya. Makanan enak yang recommended banget. Yang sudah coba jangan lupa ya tulis pendapat kalian tentang Nasi Krawu Enak di Denpasar ini di kolom komentar. Sampai jumpa pada postingan selanjutnya 🙂

Bolu Batik: Enak dan Cantik

Semua orang pasti punya hal-hal yang disukai, dan saat hal yang disukai tersebut ditemui, pastinya rasanya senang bukan kepalang. Apalagi kalau yang didapat tidak cuma satu, tentunya rasa senangnya berlipat-lipat rasanya seperti origami, hehehe.

Nah itu juga yang terjadi pada saya saat menemukan sebuah sesuatu yang menggabungkan dua hal yang saya sukai: makanan enak dan tekstil. Kalau mikirnya ini adalah tekstil yang enak jika dimakan, imajinasinya sudah agak kejauhan sih, tapi gak menutup kemungkinan bakalan ada yang membuat. Yang sedang saya bahas adalah makanan enak dengan pola tekstil. Yup.. bolu batik adalah bolu yang dibuat dengan pola batik pada permukaannya.

Bertemu Pembuat Bolu Batik

Bolu_batik_Urvasu
Bolu batik motif Parang dari Omah Bolu Batik Bali

Ceritanya saat itu saya ikut pelatihan digital marketing yang diselenggarakan dengan gratis oleh Google. Karena tidur siangnya bablas, jadilah saya telat berangkat dan saat sampai di tempat training kursi sudah hampir terisi semua. Saat clingak-clinguk mencari kursi, saya lihat ada tempat kosong di sebelah seorang ibu yang mengajak anaknya ikut serta. Wiih keren nih masih kecil udah belajar digital marketing 🙂

 Sayapun meminta izin duduk di sebelah Beliau. Kamipun berkenalan. Mba Enik adalah seorang perawat yang sempat bekerja di sebuah rumah sakit ternama di Denpasar. beberapa tahun lalu Beliau memutuskan untuk mengundurkan diri, dan memulai bisnisnya sendiri. ” Saya membuat bolu batik” kata Mba Enik waktu itu. Saya masih belum punya gambaran itu bolu batik seperti apa. “Itu bolu yang kalo dipotong dalemnya kaya batik ya mba?” tanya saya sok tahu.

Mba Enik menjelaskan kalau bolu batik yang dibuatnya adalah bolu dengan motif batik di permukaannya. Hmm… seperti biasa perasaan kepo mulai melanda saya. Mba Enik memperlihatkan instagram account-nya. Jeng-jeng…. sayapun terbengong-bengong melihat foto-foto bolu cantik dengan berbagai motif batik. Keren lho, bolu-bolu itu bisa bermotif seperti kain batik beneran. Karena training sudah hampir dimulai, kamipun menyudahi obrolan tentang bolu batik yang cantik-cantik itu.

Baca juga: Nasi Tahu Sukawati, Makanan Sederhana Tapi Nikmat

Bolu Batik: Rasanya Maknyooos

Bolu Batik_Urvasu
Bolu Batik yang sempuurna, cantik, lembut, dan enak

Mba Enik ternyata harus meninggalkan tempat training karena sudah ditunggu di rumah singgah untuk penderita kanker. Sebelum pergi, Mba Enik menitipkan sebuah bolu gulung dengan motif Batik Parang untuk dibagikan pada para peserta training. Melihat aslinya, bolu batik ternyata lebih indah daripada fotonya. Ditambah lagi dengan packing yang elegan membuat saya tidak tega untuk memotong bolu batik tersebut.

 Saat waktu istirahat, dengan berat hati saya memotong bolunya. Saat mulai dipotong, pisau pemotongnya meluncur dengan sangat mulus ke bagian bawah, pertanda bolunya sangat lembut. Dari awal sudah cantik dan lembut, hanya kurang mencicipi rasanya saja nih. Saat potongan pertama masuk mulut, wah saya langsung mersakan enaknya bolu batik ini.  Rasanya yang tidak terlalu manis dilengakpi dnegan krim yang benar-benar pas mejadikan perpaduan rasa yang susah untuk saya ungkapkan. Ditambah secangkir teh, bolu ini adalah sajian yang benar-benar akan membuat hari bertambah menyenangkan.

Bolu batik ini buat saya just perfect! Cantik tampilannya, lembut teksturnya, dan lezat rasanya. perpaduan sempurna yang memanjakan indera. Tentunya perlu juga skill tinggi untuk membuatnya. Salut deh buat Mba Enik, perawat yang pinter banget bikin kue sempurna.

Oh ya bagi sobat Urvasu yang penasaran, biar gak baca cerita saya aja, boleh nih kepoin instagramnya Omah Bolu Batik Bali. Kalau udah coba, jangan lupa berbagi komen disini ya. sampai jumpa pada postingan selanjutnya 🙂